Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, and Genderqueer

oleh Ioanes Rakhmat

Terdapat kurang lebih 20 rujukan ke homoseksualitas atau ke perilaku homoseksual dalam kitab suci gereja (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru). Tujuh di antaranya adalah teks-teks yang menurut kalangan Kristen evangelikal (= konservatif) merupakan teks-teks yang sangat jelas melarang dan mengutuk homoseksualitas atau perilaku homoseksual, yakni Kejadian 19; Imamat 18:22; Imamat 20:13; Roma 1:26-27; 1 Korintus 6:9-10; 1 Timotius 1:9-10; Yudas 1:7. Tetapi kalangan Kristen liberal (progresif) mengajukan tafsiran yang berbeda atas teks-teks ini. Berikut ini tinjauan singkat atas tujuh teks ini dan tafsiran yang diberikan masing-masing kalangan Kristen ini terhadap ketujuhnya.

Kejadian 19

Perikop ini mengisahkan tentang niat Tuhan untuk memusnahkan kota Sodom (dan Gomora) karena (kedua) kota ini konon sangat besar dosanya dan durjana (18:20; 19:15). Dua orang lelaki (=malaikat) diutus Tuhan untuk menyelidiki keadaan kota ini. Ketika mereka sudah tiba di Sodom, mereka diterima oleh Lot dan diberi tumpangan di rumahnya pada malam hari itu juga. Tetapi semua lelaki dari seluruh kota ini, tua dan muda (19:4), pada malam itu mendatangi rumah Lot dan mengepungnya. Mereka memaksa Lot untuk menyerahkan kedua tamunya itu kepada mereka untuk mereka “sodomi” (Ibrani: yada= mengetahui, berhubungan seksual). Tetapi Lot melindungi mereka, bahkan dia sampai rela menawarkan dua anak perawannya kepada mereka sebagai pengganti dua orang asing tamunya itu. Ketika keadaan sudah genting, dua tamu itu menarik Lot ke dalam rumahnya, dan mereka membutakan mata orang banyak yang mau mendobrak pintu rumahnya itu sehingga mereka tidak bisa menemukan pintu masuk. Kisahnya berakhir dengan pemusnahan kedua kota ini melalui letusan gunung berapi, dan hanya Lot beserta keluarganya diluputkan dari bencana ini.

Dalam pandangan kalangan Kristen evangelikal, Tuhan melenyapkan kota Sodom (dan Gomora) karena kaum lelaki penduduknya mempraktekkan hubungan homoseksual. Dengan demikian, dalam pandangan mereka, Tuhan mengutuk dan menghukum segala jenis homoseksualitas. Tetapi kalangan Kristen liberal menolak tafsiran semacam ini. Bagi mereka, teks ini tidak memberi petunjuk jelas apapun tentang bentuk kedurjanaan dan dosa kota Sodom. Sebaliknya teks dengan jelas menyatakan apa sebab-musabab kaum lelaki Sodom mau “menyodomi” dua tamu Lot itu, yakni karena mereka menilai keduanya adalah orang asing yang mau menjadi hakim atas mereka (19:9). Dalam zaman kuno di kawasan Timur Tengah, raja-raja dari suku-suku bangsa yang ditaklukkan kadangkala diperkosa lewat anus oleh pasukan yang menyerbu masuk sebagai tanda kekalahan dan penghinaan atas mereka. Pemerkosaan secara anal ini juga adalah suatu cara untuk menghina dan merendahkan para wisatawan dan orang asing, dan sekaligus untuk menunjukkan kekuatan dan dominasi penduduk asli dan pihak pemenang. Kalaupun dua tamu Lot itu menilai niat kaum lelaki Sodom untuk memperkosa mereka secara anal sebagai suatu dosa, dosa ini bukanlah dosa homoseksualitas, melainkan dosa memperkosa orang asing yang bertujuan untuk menghina mereka dan untuk memperlihatkan kekuatan dan dominasi para pemerkosa.

Imamat 18:22

“Janganlah engkau tidur dengan laki-laki sama seperti engkau bersetubuh dengan seorang perempuan, karena hal itu suatu kekejian.”

Bagi kalangan Kristen evangelikal, teks ini, dengan dilepaskan dari konteks tulisannya, dengan tegas melarang hubungan seksual antar sesama lelaki melalui anus. Tetapi bagi kalangan liberal, teks ini tidak berbicara tentang larangan hubungan homoseksual secara umum. Jika ditempatkan dalam konteks sastranya dan dalam konteks religius pada masanya, teks ini ternyata mau menyatakan sesuatu yang lain.

Pasal-pasal sebelum dan sesudah teks ini secara meluas berbicara mengenai idolatri (=penyembahan kepada berhala). Imamat 18:6-18 memuat larangan terhadap berbagai macam incest; ayat 19 berisi larangan bersetubuh dengan seorang perempuan yang sedang haid. Ayat 20 memuat larangan perzinahan. Persis pada ayat 21 kita baca larangan mempersembahkan anak-anak kepada suatu dewa pagan yang bernama Molokh; lalu setelah ayat 22 (lihat teks di atas) menyusul ayat 23 yang memuat larangan perkelaminan dengan binatang, baik oleh lelaki maupun oleh perempuan dari antara orang Israel. Sesudah itu menyusul ayat-ayat 24-30 yang dengan sangat jelas menyebut bahwa semua larangan yang telah disebut sebelumnya telah dilakukan oleh “bangsa-bangsa” lain, yang sama sekali tidak boleh diikuti oleh bangsa Israel.

Di dalam kuil-kuil dewa pagan, khususnya kuil dewa pagan Molokh, terdapat pelacur-pelacur bakti (lelaki atau pun perempuan dewasa, dan juga anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan) yang dalam ritual penyembahan kepada sang dewa melakukan aktivitas persetubuhan. Ritual seksual semacam ini melibatkan kegiatan hubungan homoseksual. Para penyembah dewa ini percaya bahwa jika mereka melakukan persetubuhan dengan para pelacur bakti ini di dalam kuil Molokh, maka mereka, pasangan mereka, ternak mereka dan lahan garapan mereka, akan mengalami peningkatan kesuburan dan berbuah-buah. Dengan latarbelakang ritual religius paganisme semacam ini, yang marak dilakukan pada masa Israel kuno, Imamat 18:22 jelas tidak berbicara mengenai larangan dan penolakan terhadap homoseksualitas secara umum, tetapi terhadap ritual pelacuran bakti yang dilaksanakan di kuil-kuil dewa-dewa pagan oleh bangsa-bangsa lain yang mengitari bangsa Israel. Larangan semacam ini ditulis dengan eksplisit dalam Ulangan 23:17 (“Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti [Ibrani: quedeshaw], dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti [Ibrani: quadesh].” Quadesh bertindak sebagai representasi simbolik Dewa; dan quedeshaw sebagai representasi simbolik Dewi).

Imamat 20:13

“Jika seorang laki-laki tidur dengan seorang laki-laki seperti dia bersetubuh dengan seorang perempuan, keduanya telah melakukan suatu kekejian, dan pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.”

Teks ini juga memiliki konteks ritual pelacuran bakti di kuil-kuil dewa-dewa pagan, khususnya Dewa pagan Molokh (20:1-7), yang melibatkan aktivitas persetubuhan homoseksual yang dilakukan untuk mendapatkan kesuburan. Bangsa Israel dilarang keras meniru praktek ritual pagan semacam ini, dan jika mereka melakukannya, mereka akan dihukum mati. Dalam kehidupan bangsa Israel kuno, hukuman mati kadang dijatuhkan kepada orang Israel yang melakukan suatu pelanggaran ritual, di antaranya menyembah allah-allah lain, mengumpulkan kayu api pada hari Sabat (Bilangan 15:32-36), memakan persembahan-persembahan ritual dengan cara yang tidak pantas (Bilangan 18:32), bertindak sebagai imam dengan cara yang tidak sah (Bilangan 3:10).

Roma 1:26-27

“Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tidak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman (Yunani: hē askhēmosunē), lelaki dengan lelaki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.”

Surat Roma ditujukan Rasul Paulus kepada orang-orang Kristen yang berdiam di Roma (1:7). Mereka terbenam dalam kebudayaan Romawi di mana perilaku homoseksual ditemukan di mana-mana dan diterima oleh masyarakat. Dalam paganisme kota Roma, orang melakukan ibadah dan ritual kesuburan di kuil-kuil dewa-dewa dan di kultus-kultus misteri, dengan di dalamnya aktivitas pesta-pora seksual dilaksanakan secara gila-gilaan. Dengan bantuan anggur, berbagai macam obat perangsang, musik dan dukungan hadirin, para peserta ritual kesuburan ini terbawa masuk ke dalam keadaan mabuk dan gila-gilaan, yang mendorong mereka tanpa kendali melampiaskan hasrat birahi mereka dalam suatu hubungan seksual yang tidak normal. Inilah konteks religius kultural teks Roma 1.

Sebutan “hawa nafsu yang memalukan” dalam teks Roma 1:26 mengacu kepada keadaan mabuk dan gila-gilaan ini yang dialami oleh sejumlah orang di jemaat Roma, yang telah meninggalkan kekristenan lalu menganut paganisme kota Roma (1:18-23). Semula mereka alamiahnya adalah perempuan-perempuan heteroseksual dan laki-laki heteroseksual. Tetapi, ketika mereka sudah beralih ke paganisme kota Roma dan ambil-bagian dalam ritual-ritual kesuburan pagan, perilaku seksual mereka berubah: kaum perempuan heteroseksual menjadi lesbian, dan kaum lelaki heteroseksual menjadi gay. Paulus menyebut bahwa mereka menerima “balasan yang setimpal”; ini tampaknya mengacu kepada penyakit kelamin yang telah menjadi epidemik di kalangan peserta kultus kesuburan Paganisme kota Roma. Nah, kalangan inilah yang dikecam dan diperingati Rasul Paulus dalam Roma 1:26-27 sebagai kalangan yang bermoral bobrok dan patut dihukum mati (1:28-32).

Rasul Paulus hidup pada zaman pra-modern yang pra-ilmiah, yang belum mengenal kajian ilmiah atas orientasi dan perilaku seksual manusia, yang baru dilakukan pada akhir abad XIX. Konsep “orientasi seksual” bawaan lahir belum dikenal oleh Rasul Paulus. Jadi, sangatlah tidak tepat jika kalangan Kristen evangelikal memakai teks Roma 1:26-27 untuk menolak dan mengutuk homoseksualitas secara umum. Pada pihak lain, pada tahun 1973 American Psychiatric Association (APA) mencabut homoseksualitas dari Manual Statistik dan Diagnostik Penyakit Mental, dan dengan demikian menolak definisi homoseksualitas sebelumnya sebagai suatu penyakit mental klinis.

1 Korintus 6:9-10

“Atau tidak tahukah kamu bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci [malakoi], orang pemburit [arsenokoitai], pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

Kata-kata Yunani untuk kata-kata “banci” dan “orang pemburit” (yang dipakai dalam Alkitab Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia) adalah malakoi dan arsenokoitai. Ihwal apa yang dimaksud dengan kata-kata ini dalam pikiran Rasul Paulus, masih terus diperdebatkan. Kalangan Kristen evangelikal menafsirkan kedua kata ini overall sebagai homoseksual dalam arti seumumnya (bdk terjemahan arsenokoitai sebagai “homosexual offenders” dalam Alkitab New International Version [NIV] yang terjemahannya sarat dengan pandangan kekristenan evangelikal). Menurut mereka, para homoseksual tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, atau dengan kata lain mereka akan masuk neraka setelah kematian. Jelas, ini bukanlah sebuah tafsiran yang tepat.

Jika Rasul Paulus (menulis surat 1 Korintus sekitar tahun 55 M) bermaksud mengacu ke homoseksual, dia akan memakai sebuah kata Yunani lain yang standard, yakni kata paiderasste yang menunjuk kepada orang yang berperilaku homseksual antara lelaki dengan lelaki. Septuaginta (LXX) (terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani yang dibuat antara abad III dan abad I SM) menerjemahkan kata Ibrani quadesh dalam 1 Raja-raja 14:24; 15:12; dan 22:46 ke dalam suatu kata Yunani yang kurang lebih serupa dengan kata arsenokoitai. Perikop ini dalam LXX ini mengacu ke para “pelacur lelaki yang bekerja di kuil”, yaitu kaum pria yang terlibat dalam ritual seksual di dalam kuil-kuil pagan (Indonesia: pemburit bakti). Beberapa pemimpin lain gereja perdana berpikir bahwa surat 1 Korintus juga mengacu ke para pemburit bakti di kuil-kuil pagan. Ada juga yang berpendapat bahwa arsenokoitai sebetulnya mengacu kepada para pelacur laki-laki yang menerima pelanggan perempuan, suatu pekerjaan yang tampaknya umum dilakukan di dalam kekaisaran Romawi.

Malakoi (yang diterjemahkan sebagai “banci” dalam Alkitab TB LAI) sebetulnya mengacu ke seorang lelaki muda atau seorang anak lelaki yang terlibat dalam hubungan seksual lewat anal dengan seorang lelaki dewasa yang memilikinya sebagai budaknya. Malakoi adalah mitra seks seorang pria dewasa yang kaya raya. Dengan demikian, istilah yang kedua, arsenokoitai, dapat mengacu ke lelaki dewasa yang memiliki seorang budak yang dijadikan mitra seksualnya pada saat si lelaki dewasa ini berhasrat melampiaskan nafsu syahwatnya. Praktek seksual semacam ini, antara tuan dan budak lelaki, antara seorang pedofili dan korbannya, biasa dijumpai dalam dunia Yunani-Romawi pada era permulaan kekristenan.

Jelaslah, dalam 1 Korintus 6:9-10 Rasul Paulus tidak sedang mengecam dan mengutuk orang-orang yang memiliki orientasi homoseksual, baik laki-laki maupun perempuan. Yang ditolak olehnya adalah para praktisi hubungan seksual dalam ritual-ritual kesuburan di kuil-kuil pagan, atau, orang-orang lelaki kaya yang memperlakukan budah-budak lelakinya sebagai tempat melampiaskan nafsu syahwat mereka. Jelas, Rasul Paulus menyamakan kedudukan kedua belah pihak ini, yakni sebagai orang-orang yang tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, padahal anak-anak lelaki yang menjadi budak-budak pemuas nasfu seksual para tuan mereka adalah korban-korban yang patut diberi pertolongan.

1 Timotius 1:9-10

“… yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi … orang cabul dan pemburit [arsenokoitēs], bagi penculik, bagi pendusta,…”

Pandangan negatif Rasul Paulus terhadap arsenokoitēs (yang dituangkannya dalam surat 1 Korintus pada tahun 55 M) tetap dipertahankan dalam surat 1 Timotius, salah satu surat pastoral yang ditulis oleh para penjaga dan penafsir warisan teologis Paulus (dua lainnya adalah 2 Timotius dan Titus) antara tahun 100–150 M, yakni paling jauh 85 tahun setelah Paulus dieksekusi. Bagi penulis surat 1 Timotius, perilaku arsenokoitēs bertentangan dengan “ajaran yang sehat” yang disusun berdasarkan “injil Allah” (ayat 10,11).

Yudas 1:7

“… sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.”

Sama seperti Kejadian 19 tidak menyatakan dengan spesifik apa dosa kota Sodom, Yudas 1:7 juga tidak dengan spesifik menyatakan apa yang disebut penulisnya sebagai “kepuasan-kepuasaan yang tak wajar.” Frasa Yunani dari frasa “kepuasan-kepuasan yang tak wajar” dalam teks ini adalah sarkos heteras, yang secara harfiah, karena direndengkan dengan “percabulan” (Yunani: pornea), dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “nafsu daging yang lain” atau “hasrat seksual yang tidak wajar” atau “hasrat seksual yang menyimpang” atau “berahi terhadap sesama lelaki.” Penulis Surat Yudas menempatkan perilaku seksual yang menyimpang ini dalam konteks peristiwa pemusnahan kota Sodom dan Gomora seperti dikisahkan dalam Kejadian 19 (lihat permulaan tulisan ini). Dengan demikian, dapat dipikirkan bahwa sarkos heteras ini adalah keinginan penduduk laki-laki kota Sodom untuk memperkosa dua malaikat yang mengunjungi kota mereka. Keinginan ini sesungguhnya adalah suatu penyimpangan, karena mereka ingin menggagahi dua malaikat tuhan secara seksual, padahal mereka adalah manusia biasa sementara malaikat adalah makhluk bukan-manusia. Sebuah legenda Yahudi kuno mengisahkan bahwa perempuan-perempuan Sodom terlibat hubungan seksual dengan para malaikat. Jadi, yang dikecam dan dikutuk oleh penulis Surat Yudas bukanlah homoseksualitas, tetapi keinginan penduduk Sodom untuk bersetubuh dengan makhluk bukan manusia. Dalam hukum Taurat terdapat larangan keras bersetubuh dengan binatang (Imamat 18:23).

Penutup

Tidak satu pun dari tujuh teks utama tentang homoseksualitas dalam kitab suci gereja yang telah dikupas singkat di atas mengutuk homoseksualitas dan perilaku homoseksual jika homoseksualitas ini dipahami sebagai suatu orientasi genetik seksual seseorang dan jika perilaku homoseksual ini dipandang sebagai suatu relasi homoseksual antar kalangan gay atau antar kalangan lesbian yang dibangun karena kesepakatan kedua mitra, yang dilandasi cinta dan dijaga oleh komitmen untuk membangun suatu persekutuan hidup yang langgeng.

Masih ada sejumlah teks lain dalam Alkitab yang bisa diacu dalam rangka kajian terhadap homoseksualitas, yakni Kejadian 1:28; Kejadian 2:18; Kejadian 2:23-24; Kejadian 9:20-29; Ulangan 23:17; 1 Raja-raja 14:24; 15:12; 22:46; 2 Raja-raja 23:7; Hakim-hakim 19:14-29; Matius 8:5-13; Matius 19:4-5; Matius 19:10-12.

Satu hal penting patut dicatat, bahwa perilaku homoseksual juga diperlihatkan oleh sejumlah binatang. Karena homoseksualitas pada binatang bukan timbul karena pola pergaulan yang tak bermoral, maka homoseksualitas pada binatang harus dipandang sebagai suatu pemberian alam, yang memperkaya kehidupan di Planet Bumi ini. Tentang homoseksualitas pada hewan, dua links ini menyediakan banyak informasi berharga: http://en.wikipedia.org/wiki/Homosexual_behavior_in_animals dan http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_animals_displaying_homosexual_behavior

oleh Ioanes Rakhmat (http://ioanesrakhmat.blogspot.com/search/label/Homoseksualitas)

** Makalah pengantar dalam acara diskusi kritis ttg homoseksualitas yang diadakan oleh Jaringan Islam Liberal pada 26 Juli 2010 di Jalan Utan Kayu 68H, Jakarta. Footnotes akan segera disusulkan.

Homoseksualitas dan Agama*

Mohamad Guntur Romli**

al-nâsû a’dâ’u mâ jahilû –manusia cenderung memusuhi hal yang tidak diketahui …jangan sekali-kali kebenciamu kepada suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil-lah, karena keadilan itu lebih dekat pada taqwa (QS al-Maidah: 8)

 

I

Mengaitkan isu homoseksualitas dengan agama sering dianggap seperti bertepuk sebelah tangan. Kita akan mudah menemukan gay dan lesbian yang taat beragama, namun sangat sulit menjumpai tokoh dan lembaga agama yang bersahabat dengan kalangan homoseksual. Pokok persoalan memang bukan antara homseksualitas dengan agama, tapi dengan tokoh-tokoh dan lembaga-lembaga yang merasa memiliki hak cipta dan otoritas keagamaan. Selama ini stigma, kecurigaan hingga kebencian yang dilayangkan pada kalangan homoseksual memang lebih gencar berasal dari tokoh dan lembaga agama ini.

Padahal seseorang yang mau beragama sebenarnya bisa melepaskan diri dari tokoh dan lembaga agama itu, karena agama adalah perkara abstrak, intim, individual yang hanya bisa diketahui orang itu sendiri bukan oleh orang di luar dirinya. Kalau ada yang merasa ada persoalan dari perspektif keagamaan, jangan dibayangkan dia membutuhkan sosok lain di luar dirinya—seperti kalau sakit butuh dokter, kalau punya barang yang rusak perlu mekanik, ada persoalan hukum perlu kepastian dari hakim—jangan membayangkan tokoh agama seperti dokter, mekanik atau hakim atau di sisi lain menganggap lembaga agama seperti bengkel tempat reparasi, atau rumah sakit dan pengadilan yang bisa mengeluarkan kepastian hukum. Dalam agama hakim tertinggi adalah nurani sendiri. Dari sana kita bisa meminta fatwa dan bertanya. Ada ucapan Nabi Muhammad yang sangat dikenal: Istafti qalbak (mintalah fatwa dari hatimu) atau sal dlamîrak (bertanyalah pada nuranimu).

 

II

Mengaitkan tema homoseksualitas dan agama juga tidak bertujuan mencari ―justifikasi tekstual‖, bukan untuk mengabsahkan homoseksualitas dari sudut pandang agama—seperti label halal yang dikeluarkan MUI. Bagi saya, agama yang baik adalah agama yang santun, toleran dan tidak mencampuri banyak persoalan. ―Agama yang ekonomis‖—ada judul buku Imam Ghazali yang menurut saya sangat menarik al-Iqtishad fi al-I’tiqâd (Berkeyakinan Secara Ekonomis), menjauhi pandangan dan sikap keagamaan yang ekstrim. Saya pun tidak percaya ada yang disebut ―justifikasi tekstual‖ yang murni dari agama. Karena apapun jenis agama dalam praktiknya pasti melewati proses penafsiran. Maka, apa yang disebut justifikasi itu selalu berkelindan dengan ‗argumentasi-subyektif‘ penafsir. Hal lain apakah agama akan dipaksa cerewet yang bisa berbicara banyak hal?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim suatu hari Nabi Muhammad melewati perkebunan kurma di Madinah, ia mengajari perkawinan 2 pohon kurma. Namun ternyata di tahun berikutnya pohon-pohon kurma itu tidak berbuah yang menandakan instruksi Nabi tadi keliru. Dalam dunia pertanian Nabi Muhammad bisa salah karena ia adalah pedagang bukan petani. Mengetahui hal ini Nabi pun bersabda, antum a’lamu bi umuri dunyakum (kau lebih tahu urusan duniamu). Mengambil inspirasi dari hadits ini ada dua ranah: agama dan akhirat yang dalam ranah ini Nabi memiliki otoritas, dan dunia yang dalam ranah ini menurut Nabi orang yang sebelumnya terlibat dan lebih ahli tentang urusan dunia lebih mengetahui. Maka dalam perkara dunia pun, pandangan keagamaan tidak bisa arogan lebih tahu, apalagi ingin memberi keputusan mana yang benar dan salah.

 

III

Dua relfeksi di atas menurut hemat saya adalah pemikiran yang ideal dalam mengaitkan agama dengan pelbagai isu termasuk homoseksualitas. Kita perlu membedakan antara agama yang bebas dianut, dipahami dan dipraktikkan oleh tiap individu yang menjadi suara nurani—dengan agama yang ada dalam cengkraman tokoh agama dan lembaga agama yang sering mengkleim mewakili kebenaran dan keabsahan Tuhan. Kita pun perlu dengan sadar bahwa ada ‗tempat tersendiri‘ untuk agama. Dalam hal ini agama tidak bisa dipaksa untuk berbicara banyak hal, khususnya yang berkaitan dengan kehidupan duniawi.

Namun yang senyatanya, yang sering terjadi dan kita hadapi berbeda dari yang seharusnya. Kita masih menyaksikan tokoh dan lembaga agama masih menjadi rujukan masyarakat dalam melihat segala persoalan yang ada saat ini. Menyadari hal ini, kita tidak bisa menghindar, akan selalu disodori pertanyaan bagaimana kaitan tema ini-itu dengan agama. Dalam posisi ini suara tokoh dan lembaga agama bisa menjadi semacam alat yang bisa dipergunakan untuk tujuan baik dan buruk. Tokoh/lembaga agama bisa mendorong ajaran agama untuk perdamaian dan kesantunan, namun bisa juga dipakai untuk memobilisasi massa (umat) untuk tujuan politis, mengganyang lawan, dan mendukung kekerasan.

Dalam ranah inilah kita sudah sampai pada alasan mengapa kita masih mengaitkan isu homoseksualitas dengan agama. Suatu ulasan yang bukan seharusnya, tapi karena kita tidak bisa menghindari dari sodoran soal yang ingin mengaitkan dua isu ini.

 

IV

Pun kita hidup dalam kondisi di mana agama ingin kembali ke ruang publik dengan dua alasan penting: kegagalan modernisme dan sekularisme atau memang syahwat kekuasaan agama yang tidak pernah melemah. Agama menjadi elan emansipatoris untuk perubahan politik, sosial dan ekonomi dalam menentang kesewenang-wenangan. Kita menyaksikan sosok seperti Ghandi dari Hindu, Martin Luther Jr yang menentang rasisme, gerakan Gereja Katolik di Amerika Latin, sosok Gus Dur dalam menentang Orde Baru. Namun di sini lain kita pun menyaksikan sosok seperti Pat Robertson Pendeta fundamentalis Kristen di Amerika, Osama bin Laden, Cholid Ridlwan-MUI dan Tifatul Sembiring-PKSi di Indonesia yang membawa agama ke ruang publik.

Namun kita bisa membedakan pihak 3 yang pertama menjadikan agama sebagai inspirasi bukan aspirasi politik seperti pihak kedua. Pihak pertama mengedepankan nilai dan etika agama yang universal: menentang kesewenang-wenangan, menegakkan perdamaian dan kerukunan, berusaha membangun sebuah dunia untuk bersama yang berasal dari pelbagai keunikan dan perbedaan. Sedangkan pihak kedua ingin membangun dunia untuk satu kelompok, sementara kelompok-kelompok yang lain hanya menumpang. Dari dua pihak kalangan agama di atas, kita pun menyadari siapa yang bisa bersahabat dengan tema homoseksual.

 

V

Akar kecurigaan hingga kebencian pada homoseksual adalah ketidaktahuan. Ada pepatah Arab yang mengatakan: al-nâsu a’dâ’u mâ jahilû (manusia akan memusuhi apa yang tidak mereka ketahui). Inilah pangkal kecurigaan dan kebencian terhadap homoseksual. Karena tidak tahu, mereka memusuhi. Atau mereka ‗mengetahu‘ homoseksual tapi tidak dengan informasi yang benar dan sehat. Contoh-contoh yang bisa ditemukan dalam individu atau golongan yang membenci homoseksual bisa disamakan: homoseksual adalah penyakit jiwa, bisa menyebarkan penyakit yang mematikan (HIV/AIDS), homoseksual memiliki misi menjadikan manusia semua homoseks lantas bagaimana dengan kembang-biak spesies manusia, homoseksual adalah azab yang menerimanya tinggal menunggu azab dari Tuhan dst dst…. seseorang yang telah menelan informasi tidak benar ini akan curiga dan membenci, serta merasa dirinya terancam.

Dalam pola relasi yang tidak sehat ini, dikungkung kecurigaan dan kebencian serta merasa terancam ia akan mencari dan membawa-bawa agama untuk menyerang pihak yang ia sebut lawan. Dalam ranah ini, agama hanya dipakai sebagai amunisi untuk meledakkan kebencian terhadap pihak yang disangka musuh yang akan menghabisi dirinya.

 

VI

Dalam kesempatan ini saya ingin mengulas homofobia yang menjadikan teks-teks agama Islam sebagai alat untuk membenci. Kebencian pada homoseksual (homofobia) dalam masyarakat Islam didasarkan pada dua hal: kisah Luth dalam al-Quran dan hadis-hadis yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad. Kisah Luth disebut berulang-ulang dalam beberapa surat al-Quran: Hud, al-A‘raf, al-Hujarat, al-Hijr, al-Naml, al-Syu‘ara, dan al-Ankabut. Melalui kisah ini disimpulkan dua hal, pertama praktik hubungan seksual kaum Luth yang dicela melalui kutipan kata-kata Luth pada kaumnya: ―Kamu datangi laki-laki penuh syahwat, bukannya perempuan‖ (QS al-A‘raf: 81 dan al-Naml: 55) dan ―…dari semua manusia di dunia ini, mengapa kamu datangi yang laki-laki.‖ QS al-Syu‘ara‘: 165 Kedua, akibat praktik seksual mereka, maka turunnya azab, ―Kami hujani mereka dengan hujan (batu)‖ (al-Araf: 84), ―Kami jungkir-balikkan (kota itu) dan Kami turunkan di 4 atasnya hujan batu (Hud: 82). Kesimpulannya: azab yang mengerikan diturunkan akibat praktik seksual kaum Luth.

Di sinilah kita perlu pertanyakan kembali kesimpulan tadi: benarkah azab hanya berkaitan dengan masalah moral dan praktik seksual saja? Dan benarkah kisah itu benar-benar terjadi sebagai fakta sejarah? Pertanyaan ini juga berhubungan dengan kisah-kisah sebelum Luth sendiri: kaum Nuh, Hud, dan Shaleh yang mendahului cerita kaum Luth. Akhir ceritanya juga sama: mereka dihancurkan dengan azab yang sebabnya—menurut asumsi awam: kekafiran. Saya ingin mengulas kisah-kisah tersebut tidak dari sudut fikih, yang menggunakan petikan kisah sebagai justifikasi hukum, namun saya akan mengulasnya dari sudut studi sastra. Bagi saya, ayat kisah tidak bisa dimasukkan ke dalam konteks ayat hukum. Cara membaca ayat kisah tidak sama dengan cara membaca ayat-ayat hukum: larangan meminum khamar, larangan membunuh, mencuri, perintah salat, zakat, dan lain-lainnya. Saya mengikuti perspektif yang digunakan oleh Muhammad Ahmad Khalafullah yang menulis al-Fann al-Qashashî fil Qur’ân al-Karîm (Seni Kisah dalam al-Quran). Kisah dalam Al-Quran bukan ―fakta sejarah‖ tapi menggunakan narasi sastra yang tidak memperdulikan waktu dan tempat kejadian, nama-nama tokoh, yang menjadi anasir-anasir penting dalam narasi sejarah. Kisah Luth memiliki dua versi yang dari alur ceritanya bertolak-belakang. Dalam versi surat Hud (ayat 77-83), malaikat yang datang kepada Luth mengaku sebagai utusan Allah setelah kehadiran kaum Luth yang ingin menggangu tamu Luth.

Pengakuan yang terlambat ini membuat Luth ketakutan sehingga ia perlu menawarkan putri-putrinya agar kaumnya tidak menyakiti tamunya. Sedangkan kisah Luth versi al-Hijr (ayat 61-75) pengakuan malaikat sebagai utusan Allah kepada Luth dan nasehat mereka kepada Luth terjadi sebelum kaum Luth datang kepadanya dan berdialog dengannya. Pun cerita azab yang dahsyat itu tidak bisa dipahami secara harfiah, namun secara ―majazi‖ (metaforis). Muhammad ‗Abduh adalah seorang penafsir yang rasional terhadap kisah dan mukjizat yang sering dipahami di luar rasio manusia. Contohnya laporan al-Quran tentang bantuan ribuan malaikat kepada tentara Islam pada Perang Badar sehingga bisa memenangkan peperangan. Dalam Surat Ali Imran ayat 124-125 jumlah bantuan antara 3,000-5,000 malaikat. Laporan al-Quran itu tidak berdasarkan fakta lapangan, karena kehadiran ribuan malaikat itu tidak terbukti secara nyata. Abduh mengutip pendapat Abu Bakar al-Asham yang menolak bahwa ribuan malaikat ikut membantu tentara Islam dalam pertempuran itu, karena satu malaikat saja bisa menghancurkan banyak musuh. Dan kalau benar orang Islam menang di Perang Badar karena bantuan malaikat, mengapa mereka bisa kalah di Perang Uhud sesudahnya, mengapa Muhammad tidak meminta bantuan malaikat agar terhindar dari kekalahan? Kalau saja al-Quran berani ―mengarang‖ laporannya tentang peristiwa yang disaksikan sendiri oleh Muhammad dan pengikutnya, bagaimana dengan kisah-kisah yang tidak pernah disaksikan oleh Muhammad?

Saya juga menolak apabila ―azab‖ dikaitkan dengan persoalan moral dan keyakinan belaka. Saya memahami sebab-sebab datangnya ―azab‖ berasal dari tindakan-tindakan kasar yang dilakukan umat tersebut pada utusan-utusan Allah: memusuhi, mengusir, dan mengobarkan peperangan, dan hal ini pula yang sedang berlangsung dalam kehidupan Muhammad. Dalam kisah Luth sendiri, ketika Luth menyampaikan dakwah dan ajakan, umatnya malah merespon dengan pengusiran dan ingin mempermalukan Luth. Ini pula respon orang Quraisy yang mengusir Muhammad ketika disampaikan dakwah dan ajakan Islam.

Dalam surat al-A‘raf ayat 82 disebutkan ―tiada lain jawaban kaumnya, mereka berkata, ―usirlah mereka (keluarga Luth) dari kota mu‖ dan di surat al-Ankabut ayat 29 disebutkan tiga sebab: ―sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki, menyamun di jalan raya, dan melakukan keonaran di tempat-tempat umummu?‖ dan bandingkan dengan sebab perang (qital) di zaman Muhammad, surat al-Hajj ayat 39, telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, surat al-Baqarah ayat 190, dan perangilah orang-orang yang memerangimu.

Dalam konteks Muhammad, tidak ada laporan ―azab‖ dari Allah, yang ada hanyalah peperangan (al-qitâl) yang terjadi antara Muhammad dan orang Quraisy Makkah. Bagi saya peperangan itu bukan karena alasan keyakinan yakni ―kekafiran‖, namun karena mereka telah mengusir dan memerangi Muhammad. ―Azab‖ yang disebut dalam kisah-kisah itu yang telah menghancurkan umat-umat sebelum Muhammad bagi saya adalah perumpamaan dari kejadian sesungguhnya: perang yang terjadi zaman Muhammad yang akhirnya mampu mengalahkan lawan-lawannya. Dinyatakan pula keterlibatan malaikat dalam Perang Badar, perang pertama kemenangan umat Islam, sebagaimana para malaikat memainkan perannya dalam cerita-cerita ―azab‖ dulu. Selain kisah Luth yang ada dalam al-Quran, dalil-dalil homofobis juga terdapat dalam hadis-hadis Nabi yang bunyinya sangat sadis. Saya ingin mengutip sebuah buku, Khawathir Muslim fi Mas’alah Jinsiyah karya Muhammad Galal Kisyk, seorang penulis Mesir.* Galal Kisyk membandingkan kehidupan seksual tiga agama: Yahudi, Kristen dan Islam.

Kesimpulan dia, Islam lebih bersikap terbuka terhadap masalah-masalah seksual. Seksualitas dalam konteks ―rekreasi‖ sangat diapresiasi oleh Islam, misalnya onani, masturbasi, senggama terputus (‗azl) dan seni erotika lainnya. Galal Kisyk juga menyebut ―perjaka remaja‖ (wildân mukhalladûn) sebagai janji surgawi. Ia mengutip beberapa pendapat ahli tafsir klasik. Buku ini pun sempat ditarik dari pasar karena isinya dituding bertentangan dengan hukum Islam.

* Buku ini kontroversial di Mesir, pernah dibredel atas dasar keputusan Majma‘ Buhuts al-Islamiyah (Lembaga Penelitian Islam) al-Azhar, namun akhirnya keputusan pembredelan itu dibatalkan Pengadilan Mesir. Letak kontroversi buku ini karena dipandang terlalu terbuka memperbincangkan seksualitas Islam untuk tujuan kenikmatan.

Dari penelitian Galal Kisyk ditemukan: tidak adanya sanksi fisik (la hadda) terhadap homoseksual, dan ia melaporkan hadis-hadis yang banyak dikutip untuk mengutuk dan menjatuhkan sanksi fisik pada homoseksual termasuk kategori hadis-hadis yang lemah. Sebuah hadis yang dinisbatkan pada Muhammad, ―Perilaku (seksual) yang paling aku khawatirkan yang bisa terjadi pada umatku adalah prilaku umat Luth, dan terlaknat yang melakukannya,‖ bagi al-Turmudzi, hadis ini ―aneh‖ (gharîb). Demikian hadis yang menjatuhkan hukuman mati bagi homoseksual, ―siapa pun di antara kalian yang menjumpai perilaku umat Luth, maka bunuhlah dua pelakunya,‖ hadis ini ditolak karena ada seorang periwayat bernama Ikrimah. Hadis lain ―perempuan lesbian termasuk perzinahan‖ disebutkan mata-rantai periwayatannya ―terlalu kendor‖ (layyin).

Hadis lain, ―apabila seorang laki-laki menunggangi laki-laki lain, maka singgasana Tuhan berguncang-guncang,‖ hadis ini ―palsu‖ (mawdlu’). Dan hadis lain, ―orang yang melakukan liwâth (sodomi) kalau mati, maka mayatnya di kubur akan berubah menjadi celeng,‖ hadis ini ―bohong‖ (munkar). Galal Kisyk juga menyajikan perdebatan pendapat ulama fikih klasik tentang wacana homoseksual ini. Ia mengutip pendapat mazhab Hanafi yang menolak menyejajarkan homoseksual dengan perzinahan, sehingga bisa dijatuhkan hukuman seperti orang berzina. Bukti yang sangat kuat kata Galal Kisyk, ―tidak ada riwayat satu pun yang mengabarkan Muhammad pernah menjatuhkan sanksi fisik pada homoseksual di zamannya.‖

Oleh karena itu, sumber-sumber homofobia yang selama ini diklaim berdasarkan teks-teks agama nyata-nyatanya alasan yang sangat lemah. Kelemahan pertama, berdasarkan pada ayat-cerita umat Luth, bukan pada ayat-hukum. Pun konteks keseluruhan kisah umat Luth tidak dibaca secara utuh. ―Homofobia‖ lebih menggunakan ―mata-benci‖ (ayn al-sukhthi) sehingga yang dipelototi hanyalah kutipan ―mendatangai laki-laki‖ dari kisah tersebut. Sementara sebab-sebab lain yang diulang-ulang dalam konteks keseluruhan kisah itu: kaum Luth yang ingin mengusir Luth, menyamun, berbuat keonaran, hendak melakukan kejahatan terhadap tamu dan ingin mempermalukan Luth—hingga Luth terpaksa menawarkan putri-putri-nya—tidak dijadikan dasar sama sekali. Padahal sebab-sebab yang tidak manusiawi inilah yang lebih masuk akal dibandingkan dengan sebab ―norma seksual‖. Kelemahan kedua homofobia berdasarkan pada teks yang tidak memiliki otoritas untuk dijadikan landasan hukum: hadis-hadis lemah dan palsu.

Walhasil homofobia atau kebencian pada homoseksualitas (relasi seksual non-heteroseksual) seperti ujaran bijak di atas al-nâsû a’dâ’u mâ jahilû (manusia cenderung memusuhi hal yang tidak diketahui). i Pada akhir bulan September 2010 Tifatul Sembiring Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkoinfo) bercuit-cuit dalam akun twitternya tentang AIDS. Cuit Tifatul adalah wacana, bukan sekadar kicauan semata dengan dua alasan. Pertama, Tifatul Sembiring adalah mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang mengkleim sebagai partai Islam. kedua posisi Tifatul sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan. Oleh sebab itu cuit dia diperhitungkan bukan karena isinya bermutu—malah sebagian besar tidak sama sekali dan berpantun ria—tapi karena dia yang dianggap sebagai representasi dari parpol Islam yang memperoleh suara lumayan dan posisinya dalam pemerintahan.

 

Cuit Tifatul sebanyak 6 poin itu meneruskan mitos tentang HIV/AIDS. Berikut cuit @tisembiring:

1. Cegahlah diri anda dan keluarga dari penularan virus HIV/AIDS. Angka2 penderita dan penularannya selalu meningkat tajam setiap tahunnya.

2. MI 12/11/2009: “Penyebab HIV/AIDS dr Kaum Gay Meningkat Tajam”. Kata dokter: perilaku seks yg menyimpang adalah sbg penular virus tsb.

3. Kata Al-Qur’an: Allah swt membalikkan bumi kaum nabi Luth, pelaku homoseks, menghujani mrk dngn batu, dari tanah yg terbakar QS 11:81-82

4. Penularan virus HIV/AIDS harus dicegah, juga penularan perilaku2 yg potensial membawa virus2 tsb. Sampai kini obat AIDS belum ditemukan.

5. Kata Prof. Sujudi, mantan menteri kesehatan, agar mudah diingat singkatannya AIDS=Akibat Itunya Dipakai Sembarangan.

6. Kata seorang Kiyai, jika melihat kemungkaran diam saja, itu sama spt syaithanul akhlash, maksudnya syetan gagu. Maka cegahlah kmungkaran.

Dari cuit Tifatul itu kita bisa mengambil beberapa poin yang mewakili wacana agama dalam memandang HIV/AIDS yakni: (1) hanya berkaitan (penularannya) dengan hubungan seksual (2) identik dengan homoseksual (3) berkaitan dengan azab Tuhan yang contohnya adalah umat Luth (4) diskrimnasi terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS dengan memplesetkan singkatannya: Akibat Itunya Dipakai Sembarangan.

Sebenarnya Tifatul kalau mau berkomunikasi dengan Kementrian Kesehatan akan memperoleh penjelasan yang valid tentang HIV/AIDS, namun hal ini tampaknya tidak dilakukan, atau ada miskomunikasi antara dua kementrian tadi, sehingga Tifatul merilis cuit yang isinya disinformasi tentang HIV/AIDS. Memang dalam memegang jabatan sebagai Menkoinfo, Tifatul sering berpendapat dan bersikap yang menyatakan dia terus-menerus mengalamai miskomunikasi dan disinformasi. Cocoknya Tifatul bukan sebagai menteri komunikasi dan informasi tapi menteri miskomunikasi dan disinformasi serta pornografi (karena hanya mau blokir website yang ditudingnya porno tapi tidak mau memblokir website teroris yang mengajarkan pembuatan bom).

 

*Makalah ini dipaparkan dalam diskusi publik peringatan International Day Against Homophobia (IDAHO) 2011 dengan tema “Keberagaman Orientasi Seksual dan Identitas Gender Untuk Perdamaian Sosial”, 26 Mei 2011 di Universitas Paramadina.

** Pengelola diskusi Komunitas Salihara, alumnus Santri Pondok Pesantren dan mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo-Mesir

Homoseksualitas adalah rasa ketertarikan romantis dan/atau seksual atau perilaku antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama. Sebagai orientasi seksual, homoseksualitas mengacu pada “pola berkelanjutan atau disposisi untuk pengalaman seksual, kasih sayang, atau ketertarikan romantis” terutama atau secara eksklusif pada orang dari jenis kelamin sama, “Homoseksualitas juga mengacu pada pandangan individu tentang identitas pribadi dan sosial berdasarkan pada ketertarikan, perilaku ekspresi, dan keanggotaan dalam komunitas lain yang berbagi itu. ” [1][2]

Homoseksualitas adalah salah satu dari tiga kategori utama orientasi seksual, bersama dengan biseksual dan heteroseksual, dalam kontinum heteroseksual-homoseksual. Konsensus ilmu-ilmu perilaku dan sosial dan kesehatan dan profesi kesehatan mental menyatakan bahwa homoseksualitas adalah variasi normal dan positif dalam orientasi seksual manusia,[3] meskipun banyak masyarakat agama, termasuk Katolik, Mormon, dan Islam, sekte-sekte, organisasi “mantan-gay” dan beberapa asosiasi psikologi, seperti NARTH, memandang bahwa kegiatan homoseksual adalah dosa atau kelainan. Bertentangan dengan pemahaman umum secara saintifik, berbagai sekte dan organisasi ini kerap menggambarkan bahwa homoseksualitas merupakan pilihan.

Istilah umum dalam homoseksualitas yang sering digunakan adalah lesbian untuk perempuan pecinta sesama jenis dan gay untuk pria pecinta sesama jenis, meskipun gay dapat merujuk pada laki-laki atau perempuan. Bagi para peneliti jumlah individu yang diidentifikasikan sebagai gay atau lesbian-dan perbandingan individu yang memiliki pengalaman seksual sesama jenis-sulit diperkirakan atas berbagai alasan.[4] Dalam modernitas Barat , menurut berbagai penelitian, 2% sampai 13% dari populasi manusia adalah homoseksual.[5][6][7][8][9][10][11][12][13][14][15] Sebuah studi tahun 2006 menunjukkan bahwa 20% dari populasi secara anonim melaporkan memiliki perasaan homoseksual, meskipun relatif sedikit peserta dalam penelitian ini menyatakan diri mereka sebagai homoseksual.[16] Perilaku homoseksual juga banyak diamati pada hewan. [17][18}[19][20][21]

Banyak individu gay dan lesbian memiliki komitmen hubungan sesama jenis, meski hanya baru-baru ini terdapat sensus dan status hukum/politik yang mempermudah enumerasi dan keberadaan mereka.[22][23][24][25][26][27][28][29][30] Hubungan ini setara dengan hubungan heteroseksual dalam hal-hal penting secara psikologis.[2] Hubungan dan tindakan homoseksual sudah dikagumi, serta dikutuk, sepanjang sejarah, tergantung pada bentuknya dan budaya di mana mereka didapati.[31] Sejak akhir abad ke-19, telah ada gerakan menuju hak pengakuan keberadaan dan hak-hak legal bagi orang-orang homoseksual, yang mencakup hak untuk pernikahan dan kesatuan sipil, hak adopsi dan pengasuhan, hak kerja, hak untuk memberikan pelayanan militer, dan hak untuk mendapatkan jaminan sosial kesehatan.

Isi

  • 1 Etimologi
    • 1.1 Sinonim
    • 1.2 Skala Kinsey
  • 2 Seksualitas dan identitas gender
    • 2.1 Orientasi seksual, identitas, perilaku
      • 2.1.1 Perkembangan identitas seksual: “proses coming-out”
    • 2.2 Identitas Gender
    • 2.3 Konstruksi Sosial
    • 2.4 Percintaan dan hubungan sesama jenis
  • 3 Demografi
  • 4 Psikologi
  • 5 Etiologi
    • 5.1 Kisah lesbian dan kesadaran orientasi seksual mereka
    • 5.2 Upaya perubahan orientasi seksual
    • 5.3 Fluiditas orientasi
      • 5.3.1 Gender dan fluiditas
  • 6 Parenting (Pengasuhan)
  • 7 Kesehatan
    • 7.1 Fisik
      • 7.1.1 Kesehatan masyarakat
    • 7.2 Mental
    • 7.3 Gay dan lesbian muda
  • 8 Hukum, politik, masyarakat dan sosiologi
    • 8.1 Legalitas
      • 8.1.1 Orientasi seksual dan hukum
      •      8.1.1.1 Amerika Serikat
      •      8.1.1.2 Uni Eropa
    • 8.2 Aktivisme Politik
    • 8.3 Kemitraan
    • 8.4 Dinas militer
    • 8.5 Agama
    • 8.6 Heteroseksisme dan homofobia
    • 8.7 Kekerasan terhadap kaum gay dan lesbian
  • 9 Perilaku homoseksual pada hewan

Etimologi

Kata homoseksual adalah hasil pernikahan bahasa Yunani dan Latin dengan elemen pertama berasal dari bahasa Yunani ὁμός homos, ‘sama’ (tidak terkait dengan kata Latin homo, ‘manusia’, seperti dalam Homo sapiens), sehingga dapat juga berarti tindakan seksual dan kasih sayang antara individu berjenis kelamin sama, termasuk lesbianisme. [32] Gay umumnya mengacu pada homoseksualitas laki-laki, tetapi dapat digunakan secara luas untuk merujuk kepada semua orang LGBT. Dalam konteks seksualitas, lesbian, hanya merujuk pada homoseksualitas perempuan. Kata “lesbian” berasal dari nama pulau Yunani Lesbos, di mana penyair Sappho banyak sekali menulis tentang hubungan emosionalnya dengan wanita muda. [33] [34]

Banyak panduan penulisan (style guide/style manual) di Amerika Serikat menyarankan untuk tidak menggunakan kata homoseksual sebagai kata benda, tapi menggunakan kata pria gay atau lesbian.[35] Demikian pula, beberapa merekomendasikan untuk sepenuhnya menghindari penggunaan kata homoseksual karena memiliki sejarah yang buruk dan karena kata tersebut hanya merujuk pada perilaku seksual seseorang (berlawanan dengan perasaan romantis) dan dengan demikian memiliki konotasi negatif.[35] Gay dan lesbian adalah alternatif yang paling umum. Huruf pertama sering dikombinasikan untuk menciptakan inisial LGBT (terkadang ditulis sebagai GLBT), di mana B dan T mengacu pada orang biseksual dan transgender.

Kemunculan istilah homoseksual pertama kali ditemukan pada tahun 1869 dalam sebuah pamflet Jerman tulisan novelis kelahiran Austria Karl-Maria Kertbeny yang diterbitkan secara anonim,[36] berisi perdebatan melawan hukum anti-sodomi Prusia (Kerajaan Jerman 1701-1918).[37][38] Pada tahun 1879, Gustav Jager menggunakan istilah Kertbeny dalam bukunya, Discovery of The Soul (1880).[38] Pada tahun 1886, Richard von Krafft-Ebing menggunakan istilah homoseksual dan heteroseksual dalam bukunya Psychopathia Sexualis , mungkin meminjamnya dari buku Jager. Buku Krafft-Ebing begitu populer di kalangan baik orang awam dan kedokteran hingga istilah “heteroseksual” dan “homoseksual” menjadi istilah yang paling luas diterima untuk orientasi seksual.[38][39]

Dengan demikian, penggunaan istilah tersebut berakar dari tradisi taksonomi kepribadian abad ke-19 yang lebih luas.

Meskipun penulis awal juga menggunakan kata sifat homoseksual untuk merujuk pada konteks seks-tunggal (seperti sekolah khusus perempuan), sekarang istilah ini digunakan secara eksklusif dalam referensi untuk daya tarik seksual, aktivitas, dan orientasi. Istilah homososial sekarang digunakan untuk menggambarkan konteks seks-tunggal yang tidak secara khusus bersifat seksual. Ada juga kata yang mengacu pada cinta sesama jenis, homofilia.

Sinonim

Beberapa sinonim termasuk laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki atau LSL (digunakan di kalangan medis ketika secara khusus membahas aktivitas seksual), homoerotis (mengacu pada karya seni), heterofleksibel (mengacu pada orang yang mengidentifikasi diri sebagai heteroseksual, tetapi terkadang terlibat dalam kegiatan seksual sesama jenis), dan metroseksual (merujuk pada pria non-gay dengan selera stereotip gay seperti makanan, mode, dan desain). Istilah peyoratif dalam bahasa Inggris termasuk queer (aneh), faggot (banci), fairy (peri), poof, dan homo. Dimulai pada 1990-an, beberapa kata telah direklamasi sebagai kata-kata positif untuk pria gay dan lesbian, seperti dalam penggunaan Studi Queer, Teori Queer, dan bahkan program televisi populer Amerika Queer Eye for the Straight Guy. Kata homo muncul dalam banyak bahasa lainnya tanpa konotasi penghinaan seperti dalam bahasa Inggris. Namun, seperti penghinaan etnis dan penghinaan rasial, penyalahgunaan istilah-istilah ini masih bisa sangat ofensif, kisaran penggunaan yang dapat diterima tergantung pada konteks dan pembicara. Sebaliknya, gay, kata awalnya dipegang oleh pria homoseksual dan wanita sebagai istilah positif afirmatif (seperti dalam pembebasan gay dan hak-hak gay), telah meluas dalam penggunaan peyoratif di kalangan muda.

Skala Kinsey

Skala Kinsey mencoba menggambarkan sejarah seksual seseorang atau episode aktivitas seksual mereka pada waktu tertentu. Menggunakan skala dari 0, berarti secara eksklusif heteroseksual, sampai 6, yang berarti secara eksklusif homoseksual.

Seksualitas dan identitas gender
Orientasi seksual, identitas, perilaku

American Psychological Association, American Psychiatric Association, dan National Association of Social Workers menyatakan orientasi seksual “tidak hanya karakteristik pribadi yang dapat didefinisikan dalam isolasi. Sebaliknya, orientasi seksual seseorang menentukan semesta dengan siapa orang tersebut mungkin menemukan hubungan yang puas dan terpenuhi”: [2]

Orientasi seksual umumnya dibahas sebagai karakteristik individu, seperti jenis kelamin biologis, identitas gender, atau usia. Perspektif ini tidak lengkap karena orientasi seksual selalu didefinisikan dalam istilah relasional dan harus melibatkan hubungan dengan orang lain. Tindakan seksual dan atraksi romantis dikategorikan sebagai homoseksual atau heteroseksual sesuai dengan jenis kelamin biologis individu yang terlibat di dalamnya, yang bersifat relatif satu sama lain. Individu-individu mengungkapkan heteroseksualitas mereka, homoseksualitas, atau biseksual, memang, didasarkan pada tindakan atau keinginan mereka untuk berbuat terhadap orang lain. Hal ini mencakup tindakan-tindakan sederhana seperti berpegangan tangan atau berciuman. Jadi, orientasi seksual secara integral terkait dengan hubungan personal seorang individu yang dibentuk dengan individu lain untuk memenuhi kebutuhan akan cinta, ikatan, dan keintiman. Selain perilaku seksual, ikatan ini mencakup kasih sayang fisik non-seksual antara pasangan, tujuan dan nilai-nilai bersama, sikap saling mendukung, dan komitmen berkelanjutan. [2]

Perkembangan identitas seksual: “proses coming-out”

Banyak orang yang merasakan ketertarikan kepada anggota jenis kelamin sama memiliki fase “coming out” dalam kehidupan mereka. Umumnya, coming out digambarkan dalam tiga fase. Fase pertama adalah fase “mengenali diri”, dimana muncul kesadaran bahwa ia terbuka untuk hubungan sesama jenis. Fase ini sering digambarkan sebagai coming out yang bersifat internal. Tahap kedua melibatkan keputusan untuk terbuka kepada orang lain, misalnya keluarga, teman, dan/atau kolega. Tahap ketiga mencakup hidup secara terbuka sebagai orang LGBT.[40] Di Amerika Serikat saat ini, orang sering “come out” di usia sekolah menengah atas atau kuliah. Pada usia ini, mereka mungkin tidak percaya atau meminta bantuan dari orang lain, terutama ketika orientasi mereka tidak diterima di masyarakat. Terkadang keluarga mereka sendiri bahkan tidak diberitahu.

Menurut Rosario, Schrimshaw, Hunter, Braun (2006), “perkembangan identitas seksual lesbian, gay, atau biseksual (LGB) adalah suatu proses yang kompleks dan seringkali sulit. Tidak seperti anggota kelompok minoritas lainnya (misalnya, minoritas etnis dan ras), sebagian besar individu LGB tidak dibesarkan dalam komunitas serupa dimana mereka dapat belajar tentang identitasnya dan mematangkan dan mendukung identitas itu. Sebaliknya, individu LGB sering dibesarkan dalam komunitas yang abai atau secara terbuka memusuhi homoseksualitas. ” [41]

Outing adalah upaya membongkar orientasi seksual seorang yang tertutup.[42] Politisi terkenal, selebriti, kalangan dinas militer, dan anggota ulama telah “dibongkar” dengan motif mulai dari benci hingga ke alasan politik atau keyakinan moral. Banyak yang berkomentar menentang keras praktik ini, [43] sementara beberapa di antaranya mendorong tokoh masyarakat yang “dibongkar” untuk menggunakan pengaruh mereka untuk menyakiti gay lainnya.[44]

Identitas gender

Para penulis awal orientasi homoseksual biasanya memahami keterkaitan intrinsik pada jenis kelamin subjek. Sebagai contoh, mereka berpendapat bahwa individu yang berperawakan perempuan yang tertarik pada individu berperawakan perempuan lainnya akan memiliki atribut maskulin, dan sebaliknya.[45] Pemahaman ini dianut oleh sebagian besar teoretisi penting homoseksualitas dari pertengahan abad ke-19 hingga awal abad 20, seperti Karl Heinrich Ulrichs, Richard von Krafft-Ebing, Magnus Hirschfeld, Havelock Ellis, Carl Jung dan Sigmund Freud, serta individu-individu dari kalangan homoseksual sendiri. Namun, pemahaman tentang homoseksualitas sebagai inversi seksual pada saat itu telah memicu pertikaian dan silang pendapat, dan setelah paruh kedua abad ke-20, identitas gender semakin dilihat sebagai fenomena yang berbeda dari orientasi seksual.

Individu-individu transgender dan cisgender dapat tertarik pada pria, perempuan atau keduanya, meskipun prevalensi orientasi seksual yang berlainan sangat berbeda dalam dua populasi ini. Individu homoseksual, heteroseksual atau biseksual dapat bersifat maskulin, feminin, atau androgini, dan di samping itu, banyak anggota dan pendukung komunitas lesbian dan gay sekarang yang melihat “heteroseksual sesuai gender” dan “homoseksual tidak sesuai gender” sebagai stereotip negatif. Meskipun demikian, sebuah penelitian oleh J. Michael Bailey dan K.J. Zucker telah menemukan bahwa mayoritas laki-laki gay dan lesbian tumbuh tidak sesuai gender selama masa kecil mereka.[46] Richard C. Friedman, dalam bukunya Male Homosexualiy terbit pada tahun 1990,[47] menulis dari sudut pandang psikoanalisis, berpendapat bahwa hasrat seksual dimulai lebih lambat dari yang dilansir dalam tulisan-tulisan Sigmund Freud, ia menunjukkan hasrat seksual muncul bukan pada masa bayi, tetapi antara usia 5 dan 10 tahun dan tidak terfokus pada figur orang tua tetapi pada orang di sekitarnya. Oleh karena itu, menurutnya pria homoseksual tidak abnormal, karena tidak pernah tertarik secara seksual pada ibu mereka.[48]

Konstruksi Sosial

Karena orientasi homoseksual bersifat kompleks dan multi-dimensi, beberapa akademisi dan peneliti, terutama dalam studi Queer, berpendapat bahwa homoseksual adalah konstruksi sejarah dan sosial. Pada tahun 1976 sejarawan Michel Foucault berpendapat bahwa homoseksualitas sebagai identitas tidak ada di abad ke-18, orang-orang pada masa itu berbicara tentang “sodomi,” yang mengacu pada tindakan seksual. Sodomi adalah kejahatan yang sering diabaikan tapi terkadang dijatuhi hukuman berat.

Istilah homoseksual sering digunakan dalam budaya Eropa dan Amerika untuk mencakup keseluruhan identitas sosial seseorang, yang meliputi diri dan kepribadian. Dalam budaya Barat beberapa orang membicarakan identitas dan komunitas gay, lesbian, dan biseksual. Dalam budaya lain, label homoseksual dan heteroseksual tidak menentukan identitas sosial atau menunjukkan afiliasi komunitas berdasarkan orientasi seksual.[49] Beberapa ilmuwan, seperti David Green, menyatakan bahwa homoseksualitas adalah konstruksi sosial modern Barat, dan dengan demikian tidak dapat digunakan dalam konteks seksualitas antar pria non-Barat, atau pada masa pra-modern Barat.[50]

Percintaan dan hubungan sesama jenis

Individu-individu dengan orientasi homoseksual dapat mengekspresikan seksualitasnya dalam berbagai cara, dan dapat atau dapat tidak muncul dalam perilaku mereka.[1] Beberapa memiliki hubungan seksual dengan individu-individu dengan identitas gender sama, lain gender, biseksual atau dapat juga berselibat.[1] Penelitian menunjukkan banyak pasangan lesbian dan gay yang menginginkan, dan berhasil dalam memiliki komitmen dan hubungan yang bertahan lama. Sebagai contoh, data survei menunjukkan bahwa antara 40% dan 60% pria gay dan antara 45% dan 80% dari lesbian saat ini terlibat dalam hubungan percintaan.[51] Data survei juga menunjukkan bahwa antara 18% dan 28% dari pasangan gay dan antara 8% dan 21% dari pasangan lesbian di AS telah hidup bersama selama sepuluh tahun atau lebih.[51] Sejumlah penelitian telah mengungkapkan bahwa pasangan homoseksual dan heteroseksual setara satu sama lain dalam ukuran kepuasan dan komitmen dalam hubungan percintaan,[52][53] bahwa usia dan gender lebih dapat diandalkan sebagai alat ukur kepuasan dan komitmen hubungan percintaan,[53] dan bahwa individu heteroseksual atau homoseksual memiliki harapan dan impian hubungan percintaan yang sebanding.[54]

Demografi

Data terpercaya tentang ukuran populasi gay dan lesbian sangat penting dalam memberikan informasi kebijakan publik. [55] Misalnya, demografi membantu menghitung biaya dan keuntungan dari manfaat kemitraan domestik, dampak dari legalisasi adopsi anak oleh pasangan gay, dan dampak dari Kebijakan militer Amerika Serikat Don’t Ask Don’t Tell.[55] Selanjutnya, pengetahuan tentang ukuran populasi “gay dan lesbian menjanjikan bantuan bagi para ilmuwan sosial memahami beragam pertanyaan penting -pertanyaan tentang kriteria umum pasar tenaga kerja, akumulasi modal, spesialisasi tugas dan peran dalam rumah tangga, diskriminasi, dan pemilihan lokasi geografis.” [55]

Namun, terdapat kesulitan dalam mengukur prevalensi homoseksualitas.[4] Penelitian harus mengukur beberapa karakteristik yang dapat atau tidak dapat menentukan orientasi seksual seseorang. Kalangan yang memiliki hasrat sesama jenis mungkin lebih besar dari kalangan orang yang bertindak memenuhi keinginannya itu, yang mungkin juga lebih besar dari kalangan orang yang menyatakan diri sebagai gay/lesbian/biseksual.[55]

Pada tahun 1948 dan 1953, Alfred Kinsey melaporkan bahwa hampir 46% dari subjek laki-laki “bereaksi” secara seksual kepada orang-orang dari kedua jenis kelamin dalam perjalanan kehidupan dewasa mereka, dan 37% memiliki, setidaknya, satu pengalaman homoseksual.[56][57] Metodologi Kinsey ini mendapat kritikan.[58][59] Sebuah penelitian kemudian mencoba menghilangkan bias terhadap sampel, tetapi masih memperoleh kesimpulan yang sama.[60]

Perkiraan populasi homoseksualitas eksklusif berkisar antara 1-20 persen dari populasi, biasanya ditemukan lebih banyak populasi gay daripada lesbian.[6][7][10][11][13][14][15][16][61]

Perkiraan frekuensi aktivitas homoseksual juga bervariasi dari satu negara ke negara lain. Sebuah penelitian tahun 1992 melaporkan bahwa 6,1% laki-laki di Inggris telah memiliki pengalaman homoseksual, sementara di Perancis jumlah itu hanya 4,1%. [62] Menurut survei tahun 2003, 12% dari warga Norwegia telah melakukan hubungan seks homoseksual.[14] Di Selandia Baru, sebuah penelitian tahun 2006 menunjukkan bahwa 20% dari populasi secara anonim melaporkan memiliki perasaan homoseksual, beberapa dari mereka mengaku sebagai homoseksual. Persentase individu yang teridentifikasi homoseksual sejumlah 2-3%. [16] Hasil sebuah polling tahun 2008, menunjukkan dimana hanya 6% penduduk Inggris menetapkan orientasi seksualnya sebagai homoseksual atau biseksual, lebih dari dua kali angka itu (13%) yang memiliki beberapa bentuk kontak seksual dengan individu berjenis kelamin sama.[15]

Pada pemilu AS 2008, berdasarkan hasil pemungutan suara, 4% dari pemilih menyatakan diri sebagai gay, lesbian, atau biseksual, sama seperti pada tahun 2004.[63] Menurut Lembaga Sensus Amerika Serikat di tahun 2000 ada sekitar 601.209 pasangan rumah tangga tak menikah.[64]

Di Inggris, hasil survei Kantor Statistik Nasional melansir angka 1,5% gay atau biseksual, dan menunjukkan kesamaan dengan hasil survei lain yang memberi kisaran antara 0,3% dan 3%. [57]

Psikologi

Psikologi adalah salah satu disiplin ilmu pertama yang mempelajari orientasi homoseksual sebagai fenomena diskrit (terpisah). Upaya pertama mengklasifikasikan homoseksualitas sebagai penyakit dibuat oleh gerakan seksolog amatir Eropa di akhir abad ke-19. Pada tahun 1886, seksolog terkemuka, Richard von Krafft-Ebing, menyejajarkan homoseksualitas bersama dengan 200 studi kasus praktik seksual menyimpang lainnya dalam karya, Psychopathia Sexualis. Krafft-Ebing mengedepankan bahwa homoseksualitas disebabkan oleh “kesalahan bawaan lahir [selama kelahiran]” atau “inversi perolehan”. Dalam dua dekade terakhir dari abad ke-19, pandangan lain mulai mendominasi kalangan medis dan psikiatris , menilai perilaku tersebut menunjukkan jenis individu dengan orientasi seksual bawaan dan relatif stabil.Pada akhir abad 19 dan awal abad 20, homoseksualitas dipandang secara umum sebagai penyakit.

American Psychological Association, American Psychiatric Association, dan National Association of Social Workers berpendapat:

“Pada tahun 1952, ketika Asosiasi Psikiatri Amerika pertama kali menerbitkan Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders, homoseksualitas dikategorikan sebagai gangguan mental. Namun, pengklasifikasian tersebut segera menjadi sasaran pemeriksaan kritis dalam penelitian yang didanai oleh Institut Kesehatan Mental Nasional. Studi dan penelitian berikutnya secara konsisten gagal menghasilkan dasar empiris atau ilmiah yang menunjukkan homoseksualitas sebagai gangguan atau kelainan. Dari berbagi kumpulan hasil penelitian homoseksualitas, para ahli bidang kedokteran, kesehatan mental, ilmu-ilmu sosial dan ilmu perilaku mencapai kesimpulan bahwa pengklasifikasian homoseksualitas sebagai gangguan mental tidak akurat dan bahwa klasifikasi DSM mencerminkan asumsi yang belum teruji, yang didasarkan pada norma-norma sosial yang pernah berlaku dan pandangan klinis dari sampel yang tidak representatif yang terdiri dari pasien yang mencari terapi penyembuhan dan individu-individu yang masuk dalam sistem peradilan pidana karena perilaku homoseksualitasnya.

Sebagai pengakuan bukti ilmiah, [65] Asosiasi Psikiatri Amerika menghapuskan homoseksualitas dari DSM pada tahun 1973, menyatakan bahwa “homoseksualitas sendiri menunjukkan tidak adanya gangguan dalam penilaian, stabilitas, keandalan, atau kemampuan sosial umum atau vokasional.” Setelah meninjau data ilmiah secara seksama, Asosiasi Psikologi Amerika melakukan tindakan yang sama pada tahun 1975, dan mendesak semua pakar kejiwaan “untuk memimpin menghilangkan stigma penyakit mental yang telah lama dikaitkan dengan orientasi homoseksual.” Asosiasi Nasional Pekerja Sosial pun menerapkan kebijakan serupa.

Kesimpulannya, para pakar kejiwaan dan peneliti telah lama mengakui bahwa menjadi homoseksual tidak menimbulkan hambatan untuk menjalani hidup yang bahagia, sehat, dan produktif, dan bahwa sebagian besar kalangan gay dan lesbian bekerja dengan baik di berbagai lembaga sosial dan hubungan interpersonal.” [2]

[66] Penelitian dan literatur klinis menunjukkan bahwa atraksi seksual dan cinta, perasaan, dan perilaku dalam konteks hubungan sesama jenis bersifat normal dan positif. Konsensus ilmu-ilmu sosial dan ilmu perilaku dan profesi kesehatan dan kejiwaan menyatakan bahwa homoseksualitas merupakan variasi normal dan positif dari orientasi seksual manusia.[67] Kini, terdapat bukti penelitian yang menunjukkan bahwa menjadi gay, lesbian atau biseksual sesuai dengan kesehatan mental normal dan penyesuaian sosial.[66] ICD-9 yang dikeluarkan World Health Organization(1977) mencantumkan homoseksualitas sebagai penyakit mental; Kemudian dihilangkan pada ICD-10 yang disahkan oleh Sidang Majelis Kesehatan Dunia ke-43 pada tanggal 17 Mei 1990. [68][69] Seperti DSM-II. ICD-10 menambahkan orientasi seksual ego-distonik, mengacu kepada individu yang ingin mengubah identitas gender atau orientasi seksual mereka karena gangguan perilaku agtau psikologis( F 66,1 ). Masyarakat Psikiatri China menghapuskan homoseksualitas dari Klasifikasi Gangguan Mental China pada tahun 2001, lima tahun setelah dilakukan studi oleh asosiasi tersebut.[70] Menurut Royal College of Psychiatrists “Sejarah buram ini menunjukkan bagaimana marjinalisasi terhadap sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri kepribadian tertentu (dalam hal ini kasus homoseksualitas) dapat menyebabkan praktik medis berbahaya dan dasar diskriminasi di masyarakat.[66] Namun, pengalaman diskriminasi dalam masyarakat dan kemungkinan penolakan oleh sebaya, kerabat, dan yang lainnya, seperti kolega, mengakibatkan sejumlah individu LGB mengalami kendala kesahatan mental dan masalah penyalahgunaan obat yang lebih kuat ketimbang rata-rata. Meskipun ada klaim dari kelompok-kelompok politik konservatif di Amerika Serikat bahwa tingginya kendala kesehatan mental adalah bukti bahwa homoseksualitas itu sendiri merupakan gangguan mental, tidak ada bukti apapun yang dapat mendukung klaim seperti itu.” [71]

Kebanyakan individu lesbian, gay, dan biseksual menjalani psikoterapi dengan alasan sama seperti individu heteroseksual (stres, hubungan kesulitan, kesulitan menyesuaikan diri dengan situasi sosial atau tempat kerja, dll); orientasi seksual mereka mungkin penting, sepele, atau tidak penting bagi perlakuan dan pokok permasalahan mereka. Apapun masalahnya, ada risiko tinggi prasangka anti-gay terhadap klien psikoterapi yang lesbian, gay, dan biseksual.[72] Penelitian psikologis untuk hal ini telah membantu melawan sikap dan tindakan berprasangka (“homofobia”) yang merugikan, dan secara umum membantu gerakan perjuangan hak-hak LGBT.[67]

Penerapan psikoterapi yang disetujui harus didasarkan pada fakta-fakta ilmiah berikut: [67]

  • Ketertarikan seksual, perilaku, dan orientasi sesama jenis merupakan varian seksualitas manusia yang bersifat normal dan positif, tidak menunjukkan gangguan mental atau perkembangan.
  • Homoseksualitas dan biseksualitas dianggap buruk, dan stigma ini dapat memiliki berbagai konsekuensi negatif (misalnya, stres minoritas) sepanjang rentang kehidupan (D’Augelli & Patterson, 1995; DiPlacido, 1998; Herek & garnet, 2007; Meyer, 1995, 2003 ).
  • Perilaku dan ketertarikan seksual sesama jenis dapat terjadi dalam konteks ragam orientasi seksual dan identitas orientasi seksual (Diamond, 2006; Hoburg et al, 2004;. Rust, 1996; Savin-Williams, 2005).
  • Individu-individu gay, lesbian, dan biseksual dapat hidup bahagia dan memiliki hubungan dan keluarga yang stabil dan berkomitmen, setara dengan hubungan heteroseksual dalam pokok-pokok penting (APA, 2005c; Kurdek, 2001, 2003, 2004; Peplau & Fingerhut, 2007) .
  • Tidak ada studi empiris atau penelitian ulasan sepadan (peer-review research) yang mendukung teori yang mengaitkan orientasi seksual sesama jenis dengan disfungsi keluarga atau trauma (Bell dkk, 1981;. Bene, 1965; Freund & Blanchard, 1983; Freund & Pinkava, 1961; Hooker, 1969; McCord et al, 1962;. DK Peters & Cantrell, 1991; Siegelman, 1974, 1981;. Townes et al, 1976).

Etiologi

Pada tahun 2006, American Psychological Association, American Psychiatric Association, dan National Association of Social Workers menyatakan:

“Saat ini, tidak ada kesepakatan ilmiah tentang faktor-faktor yang menyebabkan individu menjadi heteroseksual, homoseksual, atau biseksual -termasuk kemungkinan dampak biologis, psikologis, atau sosial orientasi seksual orang tua. Namun, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa sebagian besar lesbian dan gay dewasa dibesarkan oleh orangtua heteroseksual dan sebagian besar anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua lesbian dan gay tumbuh menjadi heteroseksual.” [2]

Pada tahun 2007, The Royal College of Psychiatrists menyatakan:

“Meskipun spekulasi psikoanalitik dan psikologis telah berlangsung hampir satu abad, namun tidak ada bukti substantif yang mampu mendukung pendapat bahwa pola asuh atau pengalaman anak periode awal berperan dalam pembentukan dasar orientasi heteroseksual atau homoseksual seseorang. Orientasi seksual bersifat alamiah di alam, dan ditentukan oleh serangkaian interaksi kompleks faktor genetik dan masa kandungan awal. Orientasi seksual, karenanya, bukan merupakan pilihan.” [66]

Pada tahun 2004, The American Academy of Pediatrics dalam Pediatrics menyatakan:

“Orientasi seksual mungkin tidak ditentukan oleh satu faktor, tetapi oleh gabungan pengaruh genetik, hormon, dan lingkungan. Dalam beberapa dekade terakhir, teori-teori biologi telah dikemukakan para ahli. Tetapi, tetap menjadi kontroversi dan tidak pasti tentang asal-usul ragam orientasi seksual manusia, tidak ada bukti ilmiah bahwa kelainan pola asuh, pelecehan seksual, atau sejarah hidup buruk lainnya mempengaruhi orientasi seksual. Pengetahuan saat ini berpendapat bahwa orientasi seksual biasanya dibentuk selama usia dini.” [66][74][75]

American Psychological Association menyatakan “mungkin ada banyak penyebab terbentuknya orientasi seksual seseorang dan sebab-sebab tersebut berbeda pada tiap individu”, dan mengatakan orientasi seksual kebanyakan orang ditentukan pada usia dini.[1] Penelitian tentang bagaimana orientasi seksual pada pria dapat ditentukan oleh faktor genetik atau faktor prenatal lainnya, menjadi perdebatan sosial dan politik terkait dengan isu homoseksualitas, dan juga menimbulkan kekhawatiran tentang profil genetik dan pengujian pralahir. [76]

Profesor Michael King menyatakan: “Kesimpulan yang dicapai oleh para ilmuwan dalam menyelidiki asal-usul dan stabilitas orientasi seksual adalah bahwa itu merupakan karakteristik manusia yang terbentuk sejak awal kehidupan, dan tidak dapat berubah. Bukti ilmiah asal usul homoseksualitas dianggap relevan sebagai perdebatan teologis dan sosial karena adanya anggapan bahwa orientasi seksual adalah sebuah pilihan.” [77]

Biseksualitas bawaan (atau kecenderungan biseksual) adalah istilah yang diperkenalkan Sigmund Freud, mengacu pada karya rekannya, Fliess Wilhelm, yang menguraikan bahwa semua manusia dilahirkan biseksual tetapi seiring perkembangan psikologis -yang mencakup faktor eksternal dan internal- seorang individu menjadi monoseksual, sementara biseksualitas tetap dalam keadaan laten.

Para penulis dari penelitian di tahun 2008 menyatakan “ada cukup bukti bahwa orientasi seksual manusia dipengaruhi secara genetik, sehingga tidak diketahui bagaimana homoseksualitas, yang cenderung menurunkan keberhasilan reproduksi, mampu bertahan dalam populasi pada frekuensi yang relatif tinggi”. Mereka berhipotesis bahwa “walaupun gen yang membawa kecenderungan homoseksualitas mengurangi keberhasilan reproduksi homoseksual, gen tersebut dapat memberikan beberapa keuntungan pada heteroseksual yang membawa gen itu”. Hasil studinya menunjukkan bahwa “gen yang membawa kecenderungan homoseksualitas dapat memberikan keuntungan perkawinan pada heteroseksual, yang dapat membantu menjelaskan evolusi dan terjaganya homoseksualitas dalam populasi”.[78] Sebuah studi tahun 2009 juga memperlihatkan peningkatan kesuburan wanita yang signifikan berhubungan dengan keturunan homoseksual dari garis ibu (tetapi tidak pada mereka yang berada pada garis keturunan ayah). [79]

Dalam abstraksi studinya tahun 2010, Garcia-Falgueras dan Swaab menyatakan, “otak janin berkembang selama masa intrauterin, pada janin yang mengarah ke pembentukan bayi laki-laki terjadi melalui kerja testosteron pada sel-sel sarafnya yang berkembang, atau yang ke mengarah ke perempuan melalui absennya lesakan hormon ini. Dengan cara ini, identitas gender kita (keyakinan tergabung dalam gender pria atau wanita) dan orientasi seksual telah diprogram atau diatur dalam struktur otak ketika masih dalam kandungan. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa lingkungan sosial setelah kelahiran membawa pengaruh pada identitas gender atau orientasi seksual.” [80]

Kisah lesbian dan kesadaran akan orientasi seksualnya

Kaum lesbian seringkali memiliki pengalaman seksualitas berbeda dari pria gay, dan memiliki pemahaman etiologi berbeda, di mana studi-studi etiologi banyak berfokus terutama pada pria.

Dalam sebuah survei surat tahun 1970-an oleh Shere Hite di Amerika Serikat, kalangan lesbian menyatakan alasan mereka menjadi lesbian. Ini adalah satu-satunya penelitian utama seksualitas perempuan yang telah mempelajari bagaimana perempuan memahami menjadi homoseksual sejak Kinsey pada tahun 1953. Penelitian ini menghasilkan informasi tentang pemahaman umum perempuan dalam hubungan lesbian dan orientasi seksual mereka.

Kaum perempuan berbicara tentang social conditioning, yang membuat “hampir mustahil bagi saya untuk memiliki hubungan seksual yang benar-benar sehat dengan seorang pria”.[81] Perempuan lain menyatakan bahwa karena kondisi mereka “perempuan jauh lebih peka terhadap kebutuhan orang lain”, maka “kegiatan seksual lebih baik secara fisik dan emosional dengan perempuan”, juga mengungkapkan dia lebih menyukai simetri kekuasaan dan estetika antar perempuan.[81] Beberapa perempuan mengungkapkan, “secara pribadi saya lebih suka perempuan, mereka lebih lembut dan penuh kasih kasayang”,[81] dan beberapa bicara tentang bagaimana mereka menemukan hubungan emosional dengan wanita lebih memuaskan dibandingkan dengan laki-laki, perempuan menjadikan saya lebih kreatif dan serba bisa. Seorang wanita melaporkan lebih mudah baginya “untuk menyerahkan diri secara emosional terhadap wanita”.[81] Seorang wanita yang telah menjadi lesbian selama dua tahun mengatakan ia menjumpai hubungan seksual dengan perempuan lebih menyenangkan baik pada tingkat psikologis maupun fisik daripada dengan laki-laki, hal ini “dikarenakan wanita-wanita yang pernah berhubungan seks dengan saya telah menjadi teman saya sebelumnya, yang tidak pernah terjadi dengan laki-laki. Dengan berteman akan terbangun rasa percaya yang saya pikir sangat penting untuk kepuasan keintiman fisik. Berkaitan dengan wanita lain secara fisik nampak seperti hal yang paling alami di dunia. Anda sudah mengetahui bagaimana memberikan ia kesenangan. Kelembutan tampaknya menjadi kunci, dan merupakan perbedaan utama hubungan dengan pria dan wanita.” [81] Perempuan berbicara tentang perempuan menjadi pasangan seksual lebih baik dan itu merupakan hal pokok: “Saya menemukan perempuan adalah kekasih yang lebih unggul; mereka tahu apa yang wanita inginkan dan hampir semua punya kedekatan emosional yang tidak pernah dapat dicocokkan dengan seorang pria. Lebih lembut, lebih menimbang dan memahami perasaan, dll” [81] Pandangan muncul dikarenakan laki-laki dianggap sebagai individu yang kaku secara “seksual atau emosional atau lainnya”, dan lesbianisme dianggap “sebagai alternatif untuk abstinensi” dan untuk laki-laki umumnya.[81] Pria dianggap layaknya seorang anak kecil, sementara hubungan dengan perempuan digambarkan lebih sebagai “persekutuan diri”. [81] Hubungan seks serta hubungan dengan wanita dipandang sebagai cara untuk memperoleh kemerdekaan dari laki-laki; “hubungan seks dengan perempuan berarti merdeka dari laki-laki.” [81] Kinerja seksual laki-laki juga adalah masalah lain, “dua puluh menit dengan pria, setidaknya sama dengan satu jam dengan perempuan, atau biasanya lebih“, [81] juga perhatian terhadap kebutuhan seksual wanita itu sendiri yang “nampak memiliki tingkat energi lebih berkelanjutan setelah orgasme, dan lebih mungkin untuk mengetahui dan melakukan sesuatu jika saya tidak puas”. [81] Salah satu pemahaman tentang perbedaan itu adalah bahwa seks dengan wanita “bukanlah ‘pertukaran’ atau ‘dagang’ atau jasa”, dan bukan terfokus pada orgasme, dengan “lebih berciuman dan berpegangan” dan “lebih perhatian terhadap kesenangan saya“, seks dialami sebagai pembebasan. Seks dengan perempuan juga dipandang sebagai tindakan politik; “Saya melihat lesbianisme seperti menempatkan semua energi saya (seksual, sosial, politik, dll) ke wanita. Seks adalah suatu bentuk kenyamanan sementara berhubungan seks dengan laki-laki adalah untuk memberi mereka kenyamanan.“[81]

Hite lebih peduli dengan apa yang dikatakan responden ketimbang data kuantitatif. Dia menemukan dua perbedaan paling signifikan antara pengalaman responden dengan laki-laki dan perempuan yaitu fokus pada rangsangan klitoris, dan keterlibatan emosional dan tanggapan orgasmik. [81] Sejak Hite melakukan penelitiannya, dia mengakui bahwa beberapa wanita mungkin telah memilih identitas politik seorang lesbian. Julie Bindel, seorang wartawan Inggris, menegaskan bahwa “politik lesbianisme terus membangun kesadaran hakiki karena memperkuat gagasan bahwa seksualitas adalah pilihan, dan kita tidak ditakdirkan pada nasib tertentu karena kromosom kita.” baru-baru ini tahun 2009. [82]

Upaya mengubah orientasi seksual

Tidak ada studi ilmiah yang mampu menyimpulkan apakah upaya mengubah orientasi seksual berhasil mengubah orientasi seksual seseorang. Upaya-upaya tersebut menjadi pertentangan antara nilai-nilai yang dipegang oleh beberapa organisasi berbasis agama, di satu sisi, dan yang dimiliki oleh organisasi hak asasi lesbian, gay, dan biseksual dan Lembaga profesional dan ilmiah, di sisi lain. Konsensus lama dari ilmu-ilmu perilaku dan ilmu sosial dan pakar kesehatan dan kejiwaan adalah bahwa homoseksualitas merupakan variasi normal dan positif dari orientasi seksual manusia.[3] Asosiasi Psikologi Amerika mengatakan bahwa “kebanyakan orang merasakan sedikit atau tidak sama sekali pilihan tentang orientasi seksual mereka”. [83]
Beberapa individu dan kelompok telah mengangkat ide homoseksualitas sebagai gejala cacat perkembangan atau kegagalan moral dan spiritual, dan berpendapat bahwa upaya mengubah orientasi seksual, termasuk upaya psikoterapi dan agama, dapat mengubah perasaan dan perilaku homoseksual. Banyak individu dan kelompok ini yang dimasukkan dalam konteks gerakan-gerakan politik keagamaan konservatif yang lebih besar yang telah mendukung stigmatisasi homoseksualitas atas alasan politik atau agama. [3]

Tidak ada lembaga kesehatan mental profesional yang menjatuhkan sanksi atas upaya pengubahan orientasi seksual dan hampir semua lembaga tersebut telah menerapkan pernyataan kebijakan yang memperingatkan para pakar dan masyarakat tentang pengobatan yang dimaksudkan untuk mengubah orientasi seksual. Lembaga-lembaga ini termasuk American Psychiatric Association, American Psychological Association, American Counseling Association, National Association of Social Workers di Amerika Serikat,[84] the Royal College of Psychiatrists, [85] dan Australian Psychological Society.[86] American Psychological Association dan the Royal College of Psychiatrists menyatakan kekhawatiran terhadap pandangan NARTH yang tidak didukung oleh ilmu pengetahuan dan menciptakan suatu lingkungan di mana prasangka dan diskriminasi dapat berkembang.[85][87]

American Psychological Association “mendorong para ahli kejiwaan agar menghindari penyalahan arti keberhasilan dalam upaya pengubahan orientasi seksual dengan mempromosikan atau menjanjikan perubahan orientasi seksual melalui pemberian bantuan kepada individu-individu yang tertekan dengan orientasi seksualnya sendiri atau orang lain, dan menyimpulkan bahwa manfaat yang dilaporkan peserta upaya pengubahan orientasi seksual dapat diperoleh melalui pendekatan tanpa usaha untuk mengubah orientasi seksualnya tersebut“. [88]

Fluiditas orientasi

American Psychiatric Association (APA) telah menyatakan “beberapa orang meyakini bahwa orientasi seksual merupakan bawaan dan bersifat tetap, namun, orientasi seksual berkembang sepanjang riwayat hidup seseorang”. [89] Dalam sebuah pernyataan bersama dengan organisasi-organisasi medis Amerika, APA mengatakan bahwa “masing-masing individu menyadari mereka adalah heteroseksual, gay, lesbian, atau biseksual pada waktu yang berlainan dalam hidupnya”. [90] Sebuah laporan dari Pusat Ketergantungan dan Kesehatan Mental menyatakan: “Bagi beberapa orang, orientasi seksual berkelanjutan dan tidak berubah sepanjang hidup mereka. Bagi yang lain, orientasi seksual dapat bersifat cair dan berubah seiring waktu “ [91] Hasil penelitian menunjukkan “cairnya ketertarikan, perilaku dan identitas perempuan lesbian, biseksual dan yang tanpa label dalam angka yang cukup tinggi.” [92][93]

Gender dan fluiditas

Dalam sebuah penelitian tahun 2004, subjek perempuan (baik straight maupun lesbian) memperlihatkan sikap terangsang ketika melihat film-film erotis heteroseksual serta lesbian. Di antara subjek laki-laki, pria straight hanya oleh terangsang oleh film-film erotis dengan wanita, sementara pria gay terangsang oleh film erotis dengan laki-laki. Peneliti senior penelitian tersebut mengatakan bahwa hasrat seksual perempuan lebih fleksibel terhadap kedua jenis kelamin dibandingkan dengan pria, dan ia lebih dapat berubah dari waktu ke waktu. [94]

Pengasuhan

Penelitian ilmiah telah konsisten menunjukkan bahwa orang tua yang lesbian dan gay cocok dan mampu sebagai orang tua sama halnya dengan orang tua yang heteroseksual, dan anak-anak mereka sehat secara psikologis dan mampu menyesuaikan diri dengan baik seperti anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua heteroseksual. [96][97][98] Menurut tinjauan literatur ilmiah, tidak ada bukti sebaliknya. [2][99][100][101][102]

Fisik

Istilah “Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki” (LSL) dan “Perempuan yang berhubungan seks dengan perempuan” (PSP) mengacu kepada orang-orang yang terlibat dalam aktivitas seksual dengan orang lain dari jenis kelamin yang sama terlepas dari bagaimana mereka mengidentifikasi diri -sehubungan dengan banyak yang memilih untuk tidak menerima identitas-identitas sosial sebagai lesbian, gay dan biseksual.[103][104][105][106][107] Istilah-istilah ini sering digunakan dalam literatur medis dan penelitian sosial untuk menggambarkan kelompok-kelompok tersebut dalam penelitian, tanpa perlu mempertimbangkan isu-isu seksual identitas diri. Namun, istilah-istilah ini dilihat sebagai masalah karena “mengaburkan dimensi sosial dari seksualitas, merusak pelabelan pada orang-orang lesbian, gay, dan biseksual, dan tidak cukup menjelaskan variasi dalam perilaku seksual”.[108] LSL dan PSP aktif secara seksual satu sama lain untuk berbagai alasan terutama kepuasan seksual, keintiman dan ikatan. Berbeda dengan manfaatnya, perilaku seksual dapat menjadi vektor penyakit. Seks yang aman dinilai sangat relevan guna mengurangi dampak buruk.[109] Saat ini Amerika Serikat melarang laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) untuk menjadi donor darah “karena mereka, sebagai kelompok memiliki tingkat risiko HIV lebih tinggi untuk hepatitis B dan infeksi tertentu lainnya yang dapat ditularkan melalui transfusi.” [110] Inggris [111] dan banyak negara Eropa menerapkan larangan yang sama. [110]

Kesehatan masyarakat

Berikut merupakan rekomendasi perilaku seks yang lebih aman yang telah disepakati oleh para pejabat kesehatan masyarakat bagi para perempuan yang berhubungan seks dengan perempuan (PSP) agar terhindar dari infeksi-infeksi menular seksual (IMS):

  • Hindari kontak dengan darah haid pasangan dan dengan lesi genital yang terlihat.
  • Lindungi/tutupi peralatan/mainan seks yang digunakan pada lebih dari satu vagina atau anus dengan kondom baru untuk masing-masing orang; pertimbangkan untuk menggunakan mainan yang berbeda untuk setiap orang.
  • Gunakan penghalang (misalnya, lembaran lateks, rubber dam , kondom khusus perempuan, bungkus plastik) selama seks oral.
  • Gunakan sarung tangan lateks atau vinil dan pelumas untuk setiap hubungan seks yang menggunakan tangan yang mungkin dapat menyebabkan perdarahan.[112]

Rekomendasi seks yang lebih aman yang disepakati oleh para pejabat kesehatan masyarakat bagi laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) agar terhindar dari infeksi menular seksual (IMS):

  • Hindari kontak dengan cairan tubuh pasangannya dan dengan lesi genital yang terlihat.
  • Gunakan kondom untuk anal dan oral seks .
  • Gunakan penghalang (misalnya, lembaran lateks, rubber dam , kondom) selama seks oral dan anal .
  • Cover peralatan/mainan seks yang digunakan pada lebih dari satu orang dengan kondom baru untuk masing-masing orang; pertimbangkan untuk menggunakan mainan yang berbeda untuk setiap orang dan menggunakan lateks atau sarung tangan vinil dan pelumas untuk setiap hubungan seks yang mungkin dapat menyebabkan perdarahan.[113][114]

Mental

Ketika pertama kali dijelaskan dalam literatur medis, homoseksualitas sering didekati melalui pandangan-pandangan yang berusaha untuk menemukan psikopatologi sebagai akar penyebab terjadinya homoseksualitas. Banyak literatur tentang kesehatan mental dan pasien homoseksual berpusat pada depresi, penyalahgunaan zat, dan bunuh diri. Meskipun masalah ini terjadi pada kaum non-heteroseksual, namun perdebatan tentang penyebab-penyebab terjadinya homoseksualitas seseorang bergeser setelah ia dihapus dari daftar kelainan dalam buku Diagnostik dan Statistik Manual (DSM) pada tahun 1973. Sebaliknya, pengucilan sosial, diskriminasi hukum, internalisasi stereotip negatif, dan struktur dukungan yang terbatas menunjukkan faktor-faktor yang dihadapi kaum homoseksual dalam masyarakat Barat berpengaruh pada kesehatan mental mereka. [115] Stigma, prasangka, dan diskriminasi yang berasal dari sikap negatif masyarakat terhadap homoseksualitas mengarah pada prevalensi yang lebih tinggi dari gangguan kesehatan mental di kalangan lesbian, pria gay, dan biseksual dibandingkan dengan rekan-rekan heteroseksual mereka. [116] Bukti menunjukkan bahwa liberalisasi sikap selama beberapa dekade terakhir berkaitan dengan penurunan risiko gangguan kesehatan mental di kalangan muda LGBT. [117]

Kaum muda gay dan lesbian

Remaja gay dan lesbian menanggung risiko bunuh diri, penyalahgunaan obat, masalah sekolah, dan isolasi yang lebih besar karena “lingkungan yang tidak bersahabat dan penuh cela, adanya pelecehan verbal dan fisik, penolakan dan isolasi dari keluarga dan teman sebaya”. [118] Kaum muda LGBT pun lebih terbuka untuk melaporkan pelecehan psikologis dan fisik oleh orang tua atau pengasuh mereka, dan juga pelecehan seksual. Kemungkinan terjadinya hal ini adalah bahwa (1) LGBT muda dapat secara spesifik ditargetkan atas dasar orientasi seksual yang nampak/terlihat atau gender yang tidak sesuai dengan penampilan mereka, dan (2) bahwa “faktor risiko yang terkait dengan status minoritas seksual, termasuk diskriminasi, ketidakberadaan, dan penolakan oleh anggota keluarga meninggikan kemungkinan risiko untuk menjadi korban, seperti penyalahgunaan zat, hubungan seks dengan banyak pasangan, atau lari dari rumah. ” [119] Sebuah penelitian 2008 menunjukkan korelasi antara tingkat penolakan oleh orang tua remaja LGB dan masalah kesehatan negatif:

Tingginya tingkat penolakan keluarga secara signifikan berhubungan dengan hasil kesehatan yang buruk. Berdasarkan perbandingan rasio, kalangan lesbian, gay, dan biseks dewasa yang melaporkan tingkat penolakan keluarga yang lebih tinggi selama masa remaja berisiko 8,4 kali lebih besar telah melakukan percobaan bunuh diri, 5,9 kali lebih mungkin untuk depresi, 3,4 kali lebih mungkin untuk menggunakan obat-obatan terlarang, dan 3,4 kali lebih mungkin untuk terlibat dalam hubungan seks tanpa pengaman dibandingkan dengan teman sebaya dari keluarga dengan tingkat penolakan keluarga rendah atau tidak ada sama sekali. [120]

Crisis Center (lembaga yang membantu remaja dan/atau dewasa yang mengalami krisis kesehatan) di kota-kota besar dan situs-situs informasi di Internet telah muncul untuk membantu remaja dan dewasa.[121] Helpline Trevor, adalah layanan pencegahan bunuh diri untuk remaja gay, yang didirikan setelah penayangan film Trevor, pemenang film pendek Piala Oscar, di HBO 1998.

Hukum, politik, masyarakat dan sosiologi

Homoseksualitas Legal

Pernikahan sejenis

Jenis lain kemitraan (atau hidup bersama tidak terdaftar)

Pernikahan sesama jenis diakui, namun tidak dilakukan

Homoseksualitas dipandang legal, tetapi yang kebersamaan/kesatuan sesama jenis tidak diakui

Homoseksualitas Ilegal

Hukuman minimal

Hukuman berat

Penjara seumur hidup

Hukuman mati

Mayoritas negara tidak menghalangi hubungan seks konsensual antara orang-orang yang tidak berhubungan di atas usia yang disetujui (usia dewasa). Beberapa wilayah hukum secara lebih lanjut mengakui persamaan dalam hak, perlindungan, dan keistimewaan bagi struktur keluarga pasangan sejenis, termasuk perkawinan. Beberapa negara membatasi diri hanya dalam hubungan heteroseksual, yaitu, bahwa dalam beberapa kegiatan yurisdiksi homoseksual adalah ilegal. Pelanggar dapat menghadapi hukuman mati di beberapa daerah Muslim fundamentalis seperti Iran dan bagian Nigeria. Bagaimanapun, sering sering didapati perbedaan yang signifikan antara kebijakan resmi dan penegakan hukum dalam keseharian.

Meskipun tindakan homoseksual tidak lagi dianggap tindak pidana di beberapa bagian dunia Barat, seperti Polandia pada tahun 1932, Denmark pada tahun 1933, Swedia pada tahun 1944, dan Inggris pada tahun 1967, dan tidak sampai pertengahan 1970-an komunitas gay pertama mulai mencapai hak-hak sipil terbatas di beberapa negara maju. Pada tanggal 2 Juli 2009, homoseksualitas dilegalkan di India oleh sebuah putusan Pengadilan Tinggi.[157] Sebuah titik balik dicapai pada tahun 1973 ketika American Psychiatric Association menghapus homoseksualitas dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, sehingga meniadakan definisi homoseksualitas sebelumnya yaitu sebagai gangguan mental klinis. Pada tahun 1977, Quebec menjadi negara pertama di dunia yang melarang diskriminasi atas dasar orientasi seksual. Selama tahun 1980-an dan 1990-an, mayoritas negara-negara maju memberlakukan hukum yang mendekriminalisasi perilaku homoseksual dan melarang diskriminasi terhadap kaum lesbian dan gay dalam pekerjaan, perumahan, dan layanan. Di sisi lain, banyak negara di Timur Tengah dan Afrika, serta beberapa negara di Asia, Karibia dan Pasifik Selatan, melarang homoseksualitas. Di enam negara, perilaku homoseksual dijatuhi hukuman penjara seumur hidup; dan di sepuluh negara lainnya, dijatuhi hukuman mati.[158]

Orientasi seksual dan hukum

  • Diskriminasi pekerjaan mengacu pada praktek-praktek kerja diskriminatif seperti bias dalam pengangkatan karyawan, promosi, penugasan pekerjaan, pemberhentian, dan kompensasi, serta berbagai jenis pelecehan. Di Amerika Serikat terdapat “sangat sedikit hukum tertulis, hukum tidak tertulis, dan hukum kasus yang membangun diskriminasi berdasarkan orientasi seksual yang dipandang salah secara hukum.” [159] Namun, tersedia beberapa pengecualian dan strategi hukum alternatif. Executive Order 13087 yang dikeluarkan oleh Presiden Bill Clinton(1998) melarang diskriminasi berdasarkan orientasi seksual dalam persaingan kerja pegawai sipil federal,[160] dan non-pegawai sipil federal dapat memperoleh bantuan di bawah klausul due process Konstitusi Amerika Serikat. [161] Sementara bagi para pekerja di sektor swasta memiliki dilindungi oleh Title VII di bawah teori quid pro quo pelecehan seksual,[162] teori “lingkungan kerja yang bermusuhan”,[163] teori stereotip seksual,[164] dan lain-lain.[159]
  • Housing discrimination/diskriminasi perumahan mengacu pada diskriminasi terhadap calon penyewa atau penyewa saat ini oleh pemiliknya. Di Amerika Serikat, tidak ada hukum federal terhadap diskriminasi atas dasar orientasi seksual atau identitas gender, tapi setidaknya tiga belas negara bagian dan banyak kota-kota besar yang telah membuat hukum yang melarang hal itu.[165]
  • Hate crime (juga dikenal sebagai kejahatan bias) adalah kejahatan yang termotivasi oleh bias terhadap sebuah kelompok sosial tertentu, biasanya ditentukan oleh ras, agama, orientasi seksual, kecacatan, etnis, kebangsaan, usia, gender, identitas gender, atau afiliasi politik. Di Amerika Serikat, 45 negara bagian termasuk District of Columbia telah memiliki undang-undang yang mengkriminalisasikan berbagai jenis kekerasan atau intimidasi atas alasan bias (kecuali negara bagian AZ, GA, IN, SC, danWY). Masing-masing undang-undang mencakup bias atas dasar ras, agama dan etnis; 32 negara bagian memasukkan orientasi seksual, 28 negara bagian memasukkan gender, dan 11 negara bagian memasukkan transgender/identitas gender.[166] Pada bulan Oktober 2009, Matthew Shepard and James Byrd, Jr. Hate Crimes Prevention Act, “… memberikan kekuasaan pada Departemen Kehakiman untuk menyelidiki dan mengadili kekerasan dengan alasan bias di mana pelaku telah memilih korban karena ras, warna kulit, agama, asal negara, jenis kelamin, orientasi seksual, identitas gender atau kecacatan fisik“, telah disahkan sebagai hukum dan segala tindak kejahatan kebencian (hate crime) berdasarkan orientasi seksual (di antara berbagai alasan bias lainnya) adalah kejahatan federal di Amerika Serikat.[167]

Aktivisme politik

Sejak 1960-an, banyak orang LGBT di Barat, terutama di kota-kota metropolitan, telah mengembangkan apa yang disebut sebagai “budaya gay”. Bagi banyak orang, budaya gay dicontohkan melalui gerakan gay pride, dengan parade tahunan yang menampilkan bendera pelangi. Namun tidak semua orang LGBT memilih untuk berpartisipasi dalam “budaya aneh”, dan banyak pria gay dan wanita khusus menolak untuk melakukannya. Untuk beberapa hal itu tampak seperti tampilan sembrono/urakan, atau semakin mengabadikan stereotip gay. Untuk beberapa orang lainnya, budaya gay mewakili heterofobia dan dikritik sebagai pelebaran jurang antara kaum gay dan non-gay.

Dengan mewabahnya AIDS pada awal tahun 1980-an, banyak kelompok dan individu LGBT mengatur kampanye untuk mempromosikan upaya pendidikan AIDS, pencegahan, penelitian, dukungan pasien, dan penjangkauan masyarakat, serta permintaan dukungan pemerintah untuk program ini. Gay Men’s Health Crisis, Project Inform, dan ACT UP adalah beberapa contoh respon komunitas LGBT Amerika terhadap krisis AIDS.

Angka kematian yang mengejutkan yang ditimbulkan oleh penyakit AIDS pada awalnya nampak seolah-olah akan memperlambat kemajuan gerakan hak-hak gay, tetapi pada akhirnya hal tersebut mendorong beberapa bagian dari komunitas LGBT ke dalam layanan masyarakat dan aksi politik, dan menantang masyarakat heteroseksual untuk merespon dengan penuh kasih. Pada tahun 1996, film-film besar Amerika dari periode yang mendramatisasi respon individu dan masyarakat terhadap krisis AIDS ini di antaranya, An Early Frost (1985), Longtime Companion (1990), And the Band Played On (1993), Philadelphia (1993), dan Common Threads : Stories from the Quilt (1989) yang mengacu kepada NAMES Project AIDS Memorial Quilt, terakhir kali ditampilkan secara keseluruhan di National Mall di Washington DC.

Para politisi gay telah menempati berbagai posisi di pemerintahan, bahkan di negara-negara yang memberlakukan hukum sodomi di masa lalunya semisal Guido Westerwelle, vizekanzler yang sekarang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Jerman; Peter Mandelson seorang menteri kabinet Partai Buruh Inggris, dan Per-Kristian Foss yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Keuangan Norwegia.

Gerakan LGBT ditentang oleh berbagai individu dan organisasi. Beberapa kaum sosial konservatif percaya bahwa semua hubungan seksual selain dengan pasangan lawan jenis merusak tatanan keluarga tradisional[168] dan bahwa anak-anak harus dibesarkan dalam sebuah rumah dengan ayah dan ibu.[169][170] Ada kekhawatiran bahwa hak-hak gay mungkin bertentangan dengan kebebasan bicara individu, [171][172][173][174][175] kebebasan beragama di tempat kerja,[176][177] kemampuan untuk menjalankan gereja,[171] organisasi amal [179][180] dan organisasi keagamaan lainnya [181] sesuai dengan pandangan keagamaan seseorang, dan bahwa penerimaan hubungan homoseksual oleh organisasi keagamaan dapat dipaksa melalui pengancaman penghapusan status bebas pajak gereja yang pandangannya tidak sejalan dengan orang-orang pemerintahan.[182][183] [184][185]

Sejumlah kritikus menuduh bahwa kebenaran politik telah menyebabkan kaitan antara perilaku seks antar pria dan HIV diremehkan.[186][187]

Kemitraan

Pada tahun 2006, American Psychological Association, American Psychiatric Association dan National Association of Social Workers mengemukakan pernyataannya dalam Amicus Brief yang disampaikan kepada Mahkamah Agung Negara Bagian California: “Pria gay dan lesbian membentuk hubungan yang stabil dan berkomitmen yang setara dengan hubungan heteroseksual pada hal-hal penting. Lembaga pernikahan menawarkan manfaat sosial, psikologis, dan kesehatan yang tidak diberikan bagi pasangan sesama jenis. Dengan menolak hak menikah pasangan sesama jenis, negara memperkuat dan melanggengkan stigma yang sepanjang sejarah telah dikaitkan dengan homoseksualitas. Homoseksualitas tetap menjadi stigma, dan stigma ini memiliki konsekuensi negatif. Larangan yang dikeluarkan negara bagian California tentang pernikahan sesama jenis mencerminkan dan memperkuat stigma ini”. Mereka menyimpulkan: “Tidak ada dasar-dasar ilmiah yang dapat membedakan antara pasangan sesama jenis dan heteroseksual sehubungan dengan hak-hak hukum, kewajiban, manfaat, dan beban yang diberikan oleh perkawinan sipil.” [2]

Pengabdian Militer

Tentara AS mendefinisikan perilaku homoseksual sebagai:
– sebuah tindakan atau pernyataan oleh seorang tentara yang menunjukkan kecenderungan atau niat untuk terlibat dalam tindakan homoseksual,
– permohonan lain untuk terlibat dalam tindakan homoseksual, atau
– pernikahan atau percobaan pernikahan sesama jenis. [188]

Kebijakan dan sikap terhadap personel militer gay dan lesbian berbeda di berbagai belahan dunia. Beberapa negara memungkinkan pria gay, lesbian, biseksual dan orang-orang untuk secara terbuka memberikan pelayanan militer dan telah memberikan mereka hak yang sama dan keistimewaan seperti rekan-rekan heteroseksual mereka. Banyak negara yang tidak melarang atau mendukung personel militer LGB. Beberapa negara tetap melarang keberadaan personel yang homoseksual.

Mayoritas kesatuan militer Barat telah menghapus kebijakan yang mengucilkan anggota minoritas seksual. Dari 26 negara yang berpartisipasi dalam NATO, lebih dari 20 negara mengizinkan gay, lesbian dan biseksual untuk memberi pelayanan militer. Dari anggota tetap Dewan Keamanan PBB, dua negara (Inggris dan Perancis) memberikan izin tersebut. Tiga lainnya tidak: Cina sepenuhnya melarang gay dan lesbian, Rusia tidak memasukkan personel gay dan lesbian selama masa damai namun memungkinkan beberapa personel gay untuk mengabdi dalam masa perang, dan Amerika Serikat (dengan kebijakan Don’t Ask, Don’t Tell) secara teknis memungkinkan orang gay dan lesbian untuk melayani, tetapi secara rahasia dan selibat. Israel adalah satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah yang memungkinkan individu LGB melayani di militer secara terbuka.

Sementara pertanyaan tentang homoseksualitas dalam militer telah sangat dipolitisasi di Amerika Serikat, hal ini tidak selalu demikian di banyak negara lainnya. Secara umum, seksualitas dalam latar belakang budaya di negara-negara lain dianggap sebagai aspek pribadi dari identitas seseorang ketimbang di Amerika Serikat.

Menurut American Psychological Association bukti empiris gagal untuk menunjukkan bahwa orientasi seksual erat kaitannya dengan aspek-aspek efektivitas militer seperti kesatuan unit, moral, perekrutan dan retensi.[189] Orientasi seksual tidak relevan dengan kohesi tugas militer, yang merupakan satu-satunya jenis kohesi yang secara kritis memprediksi kesiapan dan keberhasilan tim militer.[190]

Pada tanggal 18 Maret 2010, setelah Presiden AS Obama mengumumkan bahwa ia ingin menghapus kebijakan Don’t Ask, Don’t Tell, mantan jendral peringkat tinggi NATO, John Sheehan, menyalahkan keberadaan homoseksual di satuan militer Belanda atas jatuhnya Srebrenica kepada milisi Serbia dalam Perang Bosnia lima belas tahun yang lalu, ia menyatakan bahwa homoseksual telah melemahkan batalyon PBB Belanda yang didakwa melindungi daerah kantong itu. Di Senat AS, Sheehan mengatakan bahwa negara-negara Eropa telah mencoba untuk “mensosialisasikan” angkatan bersenjata mereka dengan terlalu mudah membiarkan orang memberikan pelayanan militer, di mana menurut dia telah menjadikan kekuatan militer melemah. Dia mengklaim bahwa pendapatnya digunakan oleh pimpinan angkatan bersenjata Belanda, “Hankman Berman”, kemungkinan besar mengacu pada kepala staf pertahanan Belanda, Henk van den Breemen.[191] Pemerintah Belanda menolak pernyataan Sheehan, menyebutnya “tercela” dan “tidak masuk akal”.[192][193][194][195][196]

Agama

Meskipun hubungan antara homoseksualitas dan agama dapat sangat bervariasi sepanjang waktu dan di sejumlah tempat, di dalam dan antara berbagai agama dan sekte, dan berbagai bentuk homoseksualitas dan biseksualitas, badan otoritatif saat ini dan doktrin agama terbesar di dunia umumnya melihat homoseksualitas sebagai sesuatu yang negatif. Hal ini dapat berkisar dari diam-diam menolak aktivitas homoseksual, hingga melarang praktik hubungan seksual sesama jenis antarumat secara eksplisit dan secara aktif menentang penerimaan sosial terhadap homoseksualitas. Beberapa pihak mengajarkan bahwa orientasi homoseksual itu sendiri adalah dosa,[197] sementara yang lain menegaskan bahwa hanya tindakan seksual adalah dosa.[198] Beberapa pihak mengklaim bahwa homoseksualitas dapat disembuhkan melalui iman dan praktik keagamaan. Di sisi lain, terdapat suara-suara dari internal agama-agama ini yang memandang homoseksualitas lebih positif, bahkan denominasi agama yang liberal memungkinkan untuk memberkati pernikahan sesama jenis. Terdapat juga pihak yang memandang percintaan dan seksualitas sesama jenis sebagai sesuatu yang suci/sakral, dan mitologi cinta sesama jenis dapat ditemukan di berbagai penjuru dunia. Terlepas dari pandangan mereka tentang homoseksualitas, banyak individu dari kalangan religius yang menjadikan kitab suci dan tradisi sebagai bimbingan untuk masalah ini.

Heteroseksisme dan homofobia

Dalam banyak budaya, individu homoseksual sering tunduk pada prasangka dan diskriminasi. Serupa dengan kelompok-kelompok minoritas yang lain mereka juga dapat menjadi subjek penstereotipan. Sikap ini cenderung karena bentuk homofobia dan heteroseksisme (negatif sikap , bias, dan diskriminasi dalam mendukung seksualitas dan hubungan lawan jenis). Heteroseksisme dapat mencakup anggapan bahwa setiap individu heteroseksual atau bahwa ketertarikan dan hubungan lawan jenis adalah norma dan karena itu bersifat superior. Homofobia adalah ketakutan, keengganan, atau diskriminasi terhadap individu homoseksual. Homofobia termanifestasi dalam bentuk yang berbeda, dan sejumlah jenis telah diklasifikasikan, di antaranya adalah homofobia internal/personal, homofobia sosial, homofobia emosional, homofobia yang dirasionalisasikan , dan lain-lain.[199] Serupa dengan lesbofobia (khusus pada lesbian) dan bifobia (terhadap individu biseksual). Ketika sikap anti tersebut termanifestasi dalam bentuk kejahatan, ia lebih dikenal dengan sebutan hate crime dan gay bashing.

Stereotip negatif mencirikan individu LGB kurang stabil secara romantis, lebih bergonta-ganti pasangan dan lebih cenderung melakukan tindak kekerasan terhadap anak-anak, namun tidak ada dasar ilmiah untuk pernyataan tersebut. Laki-laki gay dan lesbian membentuk komitmen hubungan yang stabil, yang setara dengan hubungan heteroseksual dalam hal-hal pokok.[2] Orientasi seksual tidak mempengaruhi kemungkinan bahwa seseorang akan melakukan tindak kekerasan terhadap anak-anak.[200][201][202] Klaim yang menyatakan bahwa terdapat bukti-bukti ilmiah yang mendukung hubungan antara menjadi gay dan menjadi pedofil adalah didasarkan pada penyalahgunaan istilah-istilah dan kekeliruan dalam bukti-bukti aktual. [201]

Kekerasan terhadap orang-orang gay dan lesbian

Di Amerika Serikat, FBI melaporkan bahwa 15,6% dari hate crime dilaporkan ke kepolisian pada tahun 2004 didasarkan pada orientasi seksual. 61% di antaranya terjadi pada korban gay (laki-laki homoseksual).[203] Pembunuhan Matthew Shepard pada tahun 1998, seorang mahasiswa gay, adalah insiden terkenal di Amerika Serikat.

Perilaku homoseksual pada hewan

Roy dan Silo, dua penguin Chinstrap jantan di New York Central Park Zoo mirip dengan yang digambarkan, menjadi dikenal secara internasional ketika mereka berpasangan dan kemudian diberi telur yang berhasil mereka rawat dan tetaskan.[204]

Perilaku homoseksual pada hewan mengacu pada bukti yang terdokumentasi dari perilaku homoseksual, biseksual dan transgender pada binatang. Perilaku tersebut termasuk seks, pencarian pasangan, kasih sayang, ikatan pasangan, dan pengasuhan.[18] Perilaku homoseksual dan biseksual tersebar luas dalam kerajaan hewan : tinjauan tahun 1999 oleh peneliti Bruce Bagemihl menunjukkan bahwa perilaku homoseksual telah diamati di hampir 1500 spesies, mulai dari primata hingga cacing usus, dan 500 di antaranya didokumentasikan dengan baik.[18][21] Perilaku seksual hewan mengambil berbagai bentuk, bahkan dalam sesama spesies. Motivasi untuk dan implikasi dari perilaku tersebut belum sepenuhnya dipahami, karena sebagian besar spesies belum sepenuhnya diamati.[205] Menurut Bagemihl, “kerajaan hewan memiliki keragaman seksual jauh lebih besar (homoseksual, biseksual dan seks non-reproduktif) ketimbang komunitas ilmiah dan masyarakat pada umumnya dalam penerimaan seksualitas.” [206]

Catatan

  1. abcd “Sexual Orientation, Homosexuality,and Bisexuality”,APAHelpCenter.org
  2. abcdefghi “Case No. S147999 in the Supreme Court of the State of California, In re Marriage Cases Judicial Council Coordination Proceeding No. 4365(…) – APA California Amicus Brief — As Filed”(PDF).
  3. abc American Psychological Association: Resolution on Appropriate Affirmative Responses to Sexual Orientation Distress and Change Efforts
  4. ab LeVay, Simon (1996). Queer Science: The Use and Abuse of Research into Homosexuality. Cambridge: The MIT Press ISBN 0-262-12199-9
  5. ^ Investigators ACSF (1992). “AIDS and sexual behaviour in France”.Nature360 (6403): 407–409. doi:10.1038/360407a0. PMID 1448162.
  6. ab Billy JO, Tanfer K, Grady WR, Klepinger DH (1993). “The sexual behavior of men in the United States”. Family Planning Perspectives25 (2): 52–60. doi:10.2307/2136206.PMID 8491287.
  7. ab Binson, Diane; Michaels, Stuart; Stall, Ron; Coates, Thomas J.; Gagnon, John H.; Catania, Joseph A. (1995). “Prevalence and Social Distribution of Men Who Have Sex with Men: United States and Its Urban Centers”. The Journal of Sex Research32 (3): 245–54.doi:10.1080/00224499509551795.
  8. ^ Bogaert AF (September 2004). “The prevalence of male homosexuality: the effect of fraternal birth order and variations in family size”. Journal of Theoretical Biology230 (1): 33-7. doi:10.1016/j.jtbi.2004.04.035.PMID 15275997. Bogaert berpendapat bahwa: “The prevalence of male homosexuality is debated. One widely reported early estimate was 10% (e.g., Marmor, 1980; Voeller, 1990). Some recent data provided support for this estimate (Bagley and Tremblay, 1998), but most recent large national samples suggest that the prevalence of male homosexuality in modern western societies, including the United States, is lower than this early estimate (e.g., 1–2% in Billy et al., 1993; 2–3% in Laumann et al., 1994; 6% in Sell et al., 1995; 1–3% in Wellings et al., 1994). It is of note, however, that homosexuality is defined in different ways in these studies. For example, some use same-sex behavior and not same-sex attraction as the operational definition of homosexuality (e.g., Billy et al., 1993); many sex researchers (e.g., Bailey et al., 2000; Bogaert, 2003; Money, 1988; Zucker and Bradley, 1995) now emphasize attraction over overt behavior in conceptualizing sexual orientation.” (hlm. 33) berisi: “…the prevalence of male homosexuality (in particular, same-sex attraction) varies over time and across societies (and hence is a ‘‘moving target’’) in part because of two effects: (1) variations in fertility rate or family size; and (2) the fraternal birth order effect. Thus, even if accurately measured in one country at one time, the rate of male homosexuality is subject to change and is not generalizable over time or across societies.” (hlm. 33)
  9. ^ Fay RE, Turner CF, Klassen AD, Gagnon JH (January 1989). “Prevalence and patterns of same-gender sexual contact among men”.Science243 (4889): 338–48. doi:10.1126/science.2911744.PMID 2911744.
  10. ab Johnson AM, Wadsworth J, Wellings K, Bradshaw S, Field J (December 1992). “Sexual lifestyles and HIV risk”. Nature360 (6403): 410–2. doi:10.1038/360410a0.PMID 1448163.
  11. ab Laumann, E. O., Gagnon, J. H., Michael, R. T., & Michaels, S. (1994).The social organization of sexuality: Sexual practices in the United States.Chicago: University of Chicago Press.
  12. ^ Sell RL, Wells JA, Wypij D (June 1995). “The prevalence of homosexual behavior and attraction in the United States, the United Kingdom and France: results of national population-based samples”. Archives of Sexual Behavior24 (3): 235–48.doi:10.1007/BF01541598.PMID 7611844.
  13. ab Wellings, K., Field, J., Johnson, A., & Wadsworth, J. (1994). Sexual behavior in Britain: The national survey of sexual attitudes and lifestyles. London, UK: Penguin Books.
  14. abc AV Jonathan Tisdall. “Norway world leader in casual sex, Aftenposten”. Aftenposten.no.
  15. abc “Sex uncovered poll: Homosexuality”. London: Guardian. 2008-10-26.
  16. abc McConaghy et al., 2006
  17. ^ Science Daily: Same-Sex Behavior Seen In Nearly All Animals
  18. abc (Bagemihl 1999)
  19. ^1,500 animal species practice homosexuality – The Medical News, 23 October 2006
  20. ^ Sommer, Volker & Paul L. Vasey (2006), Homosexual Behaviour in Animals, An Evolutionary Perspective. Cambridge University Press, Cambridge. ISBN 0521864461
  21. ab Harrold, Max (February 16, 1999). “Biological Exuberance: Animal Homosexuality and Natural Diversity”. The Advocate, reprinted in Highbeam Encyclopedia.
  22. ^ http://www.mercurynews.com/census/ci_18334802
  23. ^ http://www.aurorasentinel.com/email_push/news/article_4f4ff05a-a728-11e0-8983-001cc4c03286.html
  24. ^ http://www.starnewsonline.com/article/20110630/ARTICLES/110639995/1004/sitemaps
  25. ^ http://abcnews.go.com/Health/sex-couples-census-data-trickles-quarter-raising-children/story?id=13850332
  26. ^ http://www.startribune.com/local/125537288.html
  27. ^ http://hudsonvalley.ynn.com/content/story_links/550373/census-data-shows-sharp-increase-in-same-sex-households/
  28. ^ http://westchesterrealestateinformation.com/same-sex-couples-numbers-soar-in-ny-2010-census-finds/
  29. ^ http://kansasnewspress.com/2011/07/14/2010-census-indicates-increase-among-same-sex-homeowners-in-oklahoma/
  30. ^ http://www.wnyc.org/blogs/wnyc-news-blog/2011/jul/15/spike-number-same-sex-couples-city/
  31. ^ American Psychiatric AssociationSexual Orientation
  32. ^ “Etymology of Homosexuality”,University of Waterloo.
  33. ^ Marguerite Johnson, Terry Ryan:Sexuality in Greek and Roman society and literature: a sourcebook h.4
  34. ^ “Lesbian | Define Lesbian at Dictionary.com”. Dictionary.reference.com.
  35. ab Media Reference Guide (citing AP, NY Times, Washington Post style guides), GLAAD.
  36. ^ “Kertbeny Coins “Homosexual””, GayHistory.com
  37. ^ Feray Jean-Claude, Herzer Manfred (1990). “Homosexual Studies and Politics in the 19th Century: Karl Maria Kertbeny”. Journal of Homosexuality19: 1.
  38. abc “Biography: Karl Maria Kertbeny”, GayHistory.com
  39. ^ “Psychopathia Sexualis”, Kino.com
  40. ^ “The Coming Out Continuum”, Human Rights Campaign.
  41. ^ Rosario, M., Schrimshaw, E., Hunter, J., & Braun, L. (2006, February). Sexual identity development among lesbian, gay, and bisexual youths: Consistency and change over time. Journal of Sex Research, 43(1), 46–58.
  42. ^ Neumann, Caryn E (2004),”Outing”, glbtq.com
  43. ^ Maggio, Rosalie (1991), The Dictionary of Bias-Free Usage: A Guide to Nondiscriminatory Language, Oryx Press, h. 208, ISBN 0897746538
  44. ^ Tatchell, Peter (April 23, 2007), “Outing hypocrites is justified”, The New Statesman.
  45. ^ Minton, H. L. (1986). Femininity in men and masculinity in women: American psychiatry and psychology portray homosexuality in the 1930s, Journal of Homosexuality, 13(1), 1–21.*Terry, J. (1999). An American obsession: Science, medicine, and homosexuality in modern society. Chicago: University of Chicago Press
  46. ^ Bailey, J.M., Zucker, K.J. (1995),Childhood sex-typed behavior and sexual orientation: a conceptual analysis and quantitative review.Developmental Psychology 31(1): 43
  47. ^ Friedman, Richard C. (1990). Male Homosexuality. New Haven: Yale University Press. p. 312.ISBN 0300047452.
  48. ^ Goode, Erica (1998-12-12). “On Gay Issue, Psychoanalysis Treats Itself”. – The New York Times.
  49. ^ Zachary Green and Michael J. Stiers.Multiculturalism and Group Therapy in the United States: A Social Constructionist Perspective. Springer Netherlands 2002. Halaman 233–246.
  50. ^ Pflugfelder, Gregory (1999).Cartographies of Desire: Male-male Sexuality in Japanese Discourse, 1600–1950. University of California Press. ISBN 0520209095.
  51. ab What is Nature
  52. ^ “Relationship Satisfaction and Commitment”. Eurekalert.org. 2008-01-22.
  53. ab Duffy, S.M/; C.E. Rusbult (1985).”Satisfaction and commitment in homosexual and heterosexual relationships”. Journal of Homosexuality12 (2): 1–23. doi:10.1300/J082v12n02_01.PMID 3835198. Retrieved 2009-07-29.
  54. ^ Charlotte, Baccman; Per Folkesson, Torsten Norlander (1999).”Expectations of romantic relationships: A comparison between homosexual and heterosexual men with regard to Baxter’s criteria”.Social Behavior and Personality.
  55. abcd “Demographics of the Gay and Lesbian Population in the United States: Evidence from Available Systematic Data Sources”, Dan Black, Gary Gates, Seth Sanders, Lowell Taylor, Demography, Vol. 37, No. 2 (May, 2000), hlm. 139–154 (available on JSTOR).
  56. ^ Sexual Behavior in the Human Male, h. 656
  57. abhttp://downloads.bbc.co.uk/podcasts/radio4/moreorless/moreorless_20101001-1335a.mp3
  58. ^ David Leonhardt (July 28, 2000). “John Tukey, 85, Statistician; Coined the Word ‘Software'”. The New York Times.
  59. ^ “Biography 15.1, John W. Tukey(1915–2000)”. Retrieved 2009-05-19. John Tukey criticizes sample procedure
  60. ^ “Book Review by Martin Duberman,The Nation, November 3, 1997″.Martin Duberman on Gebhart’s “cleaning” of data
  61. ^
    • ACSF Investigators (1992). “AIDS and sexual behavior in France”.Nature360 (6403): 407–409. doi:10.1038/360407a0.PMID 1448162.
    • Bogaert A. F. (2004). “The prevalence of male homosexuality: The effect of fraternal birth order and variation in family size”.Journal of Theoretical Biology230(1): 33–37. doi:10.1016/j.jtbi.2004.04.035.PMID 15275997.
    • Fay RE, Turner CF, Klassen AD, Gagnon JH (January 1989).”Prevalence and patterns of same-gender sexual contact among men”. Science243 (4889): 338–48. doi:10.1126/science.2911744.PMID 2911744.
    • Sell RL, Wells JA, Wypij D (June 1995). “The prevalence of homosexual behavior and attraction in the United States, the United Kingdom and France: results of national population-based samples”. Arch Sex Behav24 (3): 235–48. doi:10.1007/BF01541598.PMID 7611844.
    • S. Hite, The Hite Report on Male Sexuality, New York, A. Knopf, 1991.
    • S. S. et C. L. Janus, The Janus Report on Sexual Behavior, New York, John Wiley & Sons, 1993.
    • Alfred C. Kinsey, Sexual Behavior in the Human Male, 1948, ISBN 0-7216-5445-2(o.p.), ISBN 0-253-33412-8(reprint).
  62. ^ TERESA L. WAITE, December 8, 1992 “Sexual Behavior Levels Compared in Studies In Britain and France” in the New York Times[1]
  63. ^ “27% of Gay Voters Sided with McCain”. The Advocate. 7 November 2008.
  64. ^ Smith, David M.; Gates, Gary J. (August 22, 2001). “Gay and Lesbian Families in the United States: Same-Sex Unmarried Partner Households”.
  65. ^ JAMA: Gay Is Okay With APA (American Psychiatric Association); available online:http://www.soulforce.org/article/642
  66. abcde Royal College of Psychiatrists: Submission to the Church of England’s Listening Exercise on Human Sexuality.
  67. ab American Psychological Association: Appropriate Therapeutic Responses to Sexual Orientation
  68. ^ “The decision of the World Health Organisation 15 years ago constitutes a historic date and powerful symbol for members of the LGBT community”. ILGA.
  69. ^ Shoffman, Marc (May 17, 2006),”Homophobic stigma – A community cause”, PinkNews.co.uk.
  70. ^ The New York Times: Homosexuality Not an Illness, Chinese Say
  71. ^ Royal College of Psychiatrists: Royal College of Psychiatrists response to comments on Nolan Show regarding homosexuality as a mental disorder
  72. ^ Cabaj, R; Stein, T. eds. Textbook of Homosexuality and Mental Health, h. 421
  73. ^ ed. Sandfort, T; et al. Lesbian and Gay Studies: An Introductory, Interdisciplinary Approach. Chapter 2.
  74. ^ Pediatrics: Sexual Orientation and Adolescents, American Academy of Pediatrics Clinical Report.
  75. ^ Perrin, E. C. (2002). Sexual Orientation in Child and Adolescent Health Care. New York: Kluwer Academic/Plenum Publishers.ISBN 0306467615.
  76. ^ Mitchum, Robert (August 12, 2007),”Study of gay brothers may find clues about sexuality”, Chicago Tribune.
  77. ^ “How much is known about the origins of homosexuality?”. Church Times. 2007-11-16.
  78. ^ Zietsch et al. (2008)
  79. ^ Iemmola, Francesca and Camperio Ciani, Andrea (2009). “New Evidence of Genetic Factors Influencing Sexual Orientation in Men: Female Fecundity Increase in the Maternal Line”.Archives of Sexual Behavior (Springer Netherlands) 38.
  80. ^ Garcia-Falgueras A, Swaab DF (2010). “Sexual Hormones and the Brain: An Essential Alliance for Sexual Identity and Sexual Orientation”.Endocrine Development17: 22–35. doi:10.1159/000262525.PMID 19955753. “There is no indication that social environment after birth has an effect on gender identity or sexual orientation.”.
  81. abcdefghijklm Shere Hite, The Hite Report: A Nationwide Study of Female Sexuality (N.Y.: Seven Stories Press, 2004 ed. pbk. [1st printing?] © 1976, 1981, 2004), pp. 325–328 & 330 (ISBN 1-58322-569-2).
  82. ^ Bindel, Julie (2009-01-30). “My sexual revolution”. The Guardian(London). Retrieved 2010-05-04.
  83. ^ “Answers to Your Questions. For a Better Understanding of Sexual Orientation & Homosexuality”. American Psychological Association.
  84. ^ “Expert affidavit of Gregory M. Herek, Ph.D.” (PDF). Archived from the original on 2010-08-25. Retrieved 2010-08-24.
  85. ab Royal College of Psychiatrists:Statement from the Royal College of Psychiatrists’ Gay and Lesbian Mental Health Special Interest Group
  86. ^ Australian Psychological Society:Sexual orientation and homosexuality
  87. ^ “Statement of the American Psychological Association” (PDF).
  88. ^ American Psychological Association:Resolution on Appropriate Affirmative Responses to Sexual Orientation Distress and Change Efforts
  89. ^ American Psychiatric Association(May 2000). “Gay, Lesbian and Bisexual Issues”. Association of Gay and Lesbian Psychiatrics.
  90. ^ “Just the Facts About Sexual Orientation & Youth: A Primer for Principals, Educators and School Personnel”. American Academy of Pediatrics, American Counseling Association, American Association of School Administrators, American Federation of Teachers, American Psychological Association, American School Health Association, The Interfaith Alliance, National Association of School Psychologists, National Association of Social Workers, National Education Association. 1999.
  91. ^ “ARQ2: Question A2 – Sexual Orientation”. Centre for Addiction and Mental Health.
  92. ^ Diamond, Lisa M. (January 2008) (PDF). Female bisexuality from adolescence to adulthood: Results from a 10-year longitudinal study.44.Developmental Psychology. pp. 5–14. doi:10.1037/0012-1649.44.1.5.PMID 18194000.
  93. ^ “Bisexual women – new research findings”. Women’s Health News. January 17, 2008.
  94. ^ “Why women are leaving men for other women”. CNN. 2009-04-23.96. ^ Marriage of Same-Sex Couples – 2006 Position Statement Canadian Psychological Association97. ^ “Elizabeth Short, Damien W. Riggs, Amaryll Perlesz, Rhonda Brown, Graeme Kane: Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender (LGBT) Parented Families – A Literature Review prepared for The Australian Psychological Society” (PDF). Retrieved 2010-11-05.

    98. ^ “Brief of the American Psychological Association, The California Psychological Association, The American Psychiatric Association, and the American Association for Marriage and Family Therapy as Amici Curiae in support of plaintiff-appellees” (PDF). Retrieved 2010-12-21.

    99. ^ Pawelski JG, Perrin EC, Foy JM, et al. (July 2006). “The effects of marriage, civil union, and domestic partnership laws on the health and well-being of children”. Pediatrics 118 (1): 349–64. doi:10.1542/peds.2006-1279.PMID 16818585.

    100. ^ Herek GM (September 2006). “Legal recognition of same-sex relationships in the United States: a social science perspective”. The American Psychologist 61 (6): 607–21. doi:10.1037/0003-066X.61.6.607.PMID 16953748.

    101. ^ “How Does the Gender of Parents Matter”. .interscience.wiley.com. Retrieved 2010-12-21.

    102. ^ Brief presented to the Legislative House of Commons Committee on Bill C38 by the Canadian Psychological Association – June 2, 2005.

    103. ^ “MSM in Africa: highly stigmatized, vulnerable and in need of urgent HIV prevention”. Aidsportal.org. Retrieved 2010-08-24.

    104. ^ “UNAIDS: Men who have sex with men” (asp). UNAIDS. Retrieved 2008-07-24.[dead link]

    105. ^ Greenwood, Cseneca; Mario Ruberte (9 April 2004). “African American Community and HIV (Slide 14 mentions TG women)” (ppt). East Bay AIDS Education and Training Center. Retrieved 2008-07-24.

    106. ^ Operario D, Burton J, Underhill K, Sevelius J (January 2008). “Men who have sex with transgender women: challenges to category-based HIV prevention”. AIDS Behav 12 (1): 18–26. doi:10.1007/s10461-007-9303-y.PMID 17705095.

    107. ^ Operario D, Burton J (April 2000). “HIV-related tuberculosis in a transgender network—Baltimore, Maryland, and New York City area, 1998–2000″.MMWR Morb. Mortal. Wkly. Rep. 49 (15): 317–20. PMID 10858008.

    108. ^ Young RM, Meyer IH (July 2005). “The trouble with “MSM” and “WSW”: erasure of the sexual-minority person in public health discourse”. Am J Public Health 95 (7): 1144-9. doi:10.2105/AJPH.2004.046714. PMC 1449332.PMID 15961753.

    109. ^ “STI Epi Update: Oral Contraceptive and Condom Use”. Public Health Agency of Canada. April 23, 1998. Retrieved 2007-07-11.

    110. ^ ab Cber / Fda. “FDA Policy on Blood Donations from Men Who Have Sex with Other Men”. Web.archive.org. Archived from the original on 2007-10-11. Retrieved 2010-08-24.

    111. ^ “The National Blood Service — Exclusion of Men who have Sex with Men from Blood Donation”. Blood.co.uk. 2010-07-19. Retrieved 2010-08-24.

    112. ^ Mravack, Sally A. (July 2006).”Primary Care for Lesbians and Bisexual Women”, American Family Physician 74 (2) p. 279–286.

    113. ^ Catalyst, Sr. Kitty, Staff of San Francisco City Clinic; “Reading This Might Save Your Ass”; 2001, San Francisco HIV Prevention and STD Prevention and Control.

    114. ^ Men Like Us: The GMHC Complete Guide to Gay Men’s Sexual, Physical, and Emotional Well-being; Wolfe, Daniel; Gay Men’s Health Crisis, Inc; Published by Ballantine Books, 2000; ISBN 0345414969, 9780345414960.

    115. ^ Schlager, Neil, ed. (1998). Gay & Lesbian Almanac. St. James Press. ISBN 1558623582, p. 152.

    116. ^ Meyer IH (September 2003). “Prejudice, social stress, and mental health in lesbian, gay, and bisexual populations: conceptual issues and research evidence”. Psychological Bulletin129 (5): 674–97. doi:10.1037/0033-2909.129.5.674. PMC 2072932. PMID 12956539.

    117. ^ “Black gay men, lesbians, have fewer mental disorders than whites, says Mailman School of PH study”. Eurekalert.org. Retrieved 2010-08-24.

    118. ^ Gibson, P. (1989), “Gay and Lesbian Youth Suicide”, in Fenleib, Marcia R. (ed.), Report of the Secretary’s Task Force on Youth Suicide, United States Government Printing Office, ISBN 0160025087

    119. ^ Balsam, Kimberly F.; Esther D. Rothblum (June 2005) (PDF). Victimization Over the Life Span: A Comparison of Lesbian, Gay, Bisexual, and Heterosexual Siblings73. Journal of Consulting and Clinical Psychology. pp. 477–487.

    120. ^ Ryan, Caitlin; David Huebner, Rafael M. Diaz and Jorge Sanchez (January 2009). “Family Rejection as a Predictor of Negative Health Outcomes in White and Latino Lesbian, Gay, and Bisexual Young Adults”. Pediatrics(PEDIATRICS) 123 (1): 346=352. doi:10.1542/peds.2007-3524.PMID 19117902.

    121. ^ Caruso, Kevin, “Gay, Lesbian, Bisexual, and Transgender Suicide”,Suicide.org, retrieved 2007-05-04

    157. ^ Mitta, Manoj; Singh, Smriti (2009-07-03), “India decriminalises gay sex”,The Times Of India

     158. ^ Ottosson, Daniel (November, 2006) (PDF), LGBT world legal wrap up survey, ILGA, retrieved 2007-09-21

    159. ^ a b Donovan, James M; American Association of Law Libraries Standing Committee on Lesbian and Gay Issues (2007), Sexual Orientation and the Law, William S. Hein & Co., ISBN 083770166X § 5:17

    160. ^ “Executive Order 13087 of May 28, 1998″ (PDF), Federal Register 63(105), June 2, 1998, retrieved 2007-09-07

    161. ^ Ashton v. Civiletti, 613 F.2d 923, 20 Fair Empl. Prac. Cas. (BNA) 1601, 21 Empl. Prac. Dec. (CCH) P 30297 (D.C. Cir. 1979)

    162. ^ Kelly v. City of Oakland, 198 F.3d 779, 81 Fair Empl. Prac. Cas. (BNA) 1455, 77 Empl. Prac. Dec. (CCH) P 46281 (9th Cir. 1999)

    163. ^ Oncale v. Sundowner Offshore Services, Inc., 523 U.S. 75, 118 S. Ct. 998, 1002 (1998)

    164. ^ Price Waterhouse v. Hopkins, 490 U.S. 228 (1989)

    165. ^ Renter’s Rights Against Sexual Orientation Discrimination, archived fromthe original on 2007-12-10, retrieved 2007-09-07

    166. ^ “State Hate Crime Laws” (PDF), Anti-Defamation League, June 2006, retrieved 2007-05-04

    167. ^ “President Barack Obama Signs Hate Crimes Legislation Into Law”. HRC. 2009-10-28. Retrieved 2010-08-24.

    168. ^ Salt Lake City, UT (2004-10-20). “First Presidency Message on Same-Gender Marriage”. Newsroom.lds.org. Archived from the original on 2008-06-03. Retrieved 2010-08-24.

    169. ^ Brownback, Sam (July 9, 2004). “Defining Marriage Down – We need to protect marriage.”. National Review.

    170. ^ “The Family: A Proclamation to the World“. Lds.org. 1995-09-23. Retrieved 2010-08-24.

    171. ^ Doughty, Steve (November 28, 2007). “Gay hate law ‘threat to Christian free speech'”. London: Daily Mail.

    172. ^ Doughty, Steve (September 6, 2006). “Christian faces court over ‘offensive’ gay festival leaflets”. London: Daily Mail.

    173. ^ Gove, Michael (December 24, 2002). “I’d like to say this, but it might land me in prison”. London: The Times.

    174. ^ “Christian group likens Tory candidate review to witch hunt”. CBC News. November 28, 2007.

    175. ^ Kempling, Chris (April 9, 2008). “Conduct unbecoming a free society”. National Post.[dead link]

    176. ^ Moldover, Judith (October 31, 2007). “Employer’s Dilemma: When Religious Expression and Gay Rights Cross”. New York Law Journal.

    177. ^ Ritter, Bob (January–February, 2008). “Collision of religious and gay rights in the workplace”. Humanist. 178. ^ “Bishop loses gay employment case”. BBC News. July 18, 2007.

    179. ^ Beckford, Martin (June 5, 2008). “Catholic adoption service stops over gay rights”. London: Telegraph.

    180. ^ LeBlanc, Steve (March 10, 2006). “Catholic Charities to halt adoptions over issue involving gays”. Boston Globe.

    181. ^ Mercer, Greg (April 24, 2008). “Christian Horizons rebuked: Employer ordered to compensate fired gay worker, abolish code of conduct”. The Record. Retrieved 2009-08-21.

    182. ^ Gallagher, Maggie (May 15, 2006). “Banned in Boston:The coming conflict between same-sex marriage and religious liberty”. 011.

    183. ^ Capuzzo, Jill (August 14, 2007). “Church Group Complains of Civil Union Pressure”. New York Times.

    184. ^ Capuzzo, Jill (2007-09-18). “Group Loses Tax Break Over Gay Union Issue”. New York Times. Retrieved. 2010-03-31.

    185. ^ Moore, Carrie (May 15, 2008). “LDS Church expresses disappointment in California gay marriage decision”. Deseret News. Retrieved 2009-08-21.

    186. ^ Chin, James (March 12, 2007). “The risks in hiding the HIV/AIDS truth”. 9. Business Day.[dead link]

    187. ^ “The people punish Mr Blair”. London: Daily Mail (UK). May 6, 2005.

    188. ^ The Soldier’s Guide: The Complete Guide to U.S. Army Traditions, Training, Duties, and Responsibilities. Books.google.com. 2007-10-01.ISBN 9781602391642. Retrieved 2010-12-21.

    189. ^ American Psychological Association Proceedings of the American Psychological Association, Incorporated, for the legislative year 2004. Minutes of the meeting of the Council of Representatives July 28 & 30, 2004, Honolulu, HI. Retrieved November 18, 2004

    190. ^ American Psychological Association: [Report of the APA Joint Divisional Task Force on Sexual Orientation & Military Service]

    191. ^ “General Sheehan: gays responsible for Srebrenica massacre”. Youtube.com. Retrieved 2010-08-24.

    192. ^ “Former US general: ‘gays make Dutch military weak’”. Nrc.nl. Retrieved 2010-08-24.

    193. ^ Ian Traynor, Europe correspondent (2010-03-19). “US general: Gay Dutch soldiers caused Srebrenica massacre”. London: Guardian. Retrieved 2010-08-24.

    194. ^ Foreign, Our (2010-03-19). “Gay Dutch soldiers responsible for Srebrenica massacre says US general”. London: Telegraph.co.uk. Retrieved 2010-08-24.

    195. ^ “PM slams ´disgraceful´ Srebrenica gay comments”. Javno.com. 2010-03-19. Retrieved 2010-08-24.

    196. ^ “Dutch fury at US general’s gay theory over Srebrenica”. BBC News. 2010-03-19. Retrieved 2010-08-24.

    197. ^ “Charge #1 and specifications preferred by the Presbytery of Southern California against The Rev. C. Lee Irons” (PDF). Presbytery of Southern California of the Orthodox Presbyterian Church. Retrieved 2008-06-27. “claiming that homosexuality is an unchosen “condition,” rather than a sin of the heart, [...] contradicts the teaching of Scripture that both the desire and the act are sin.”

    198. ^ “Catechism of the Catholic Church”. vatican.va. 1997. Retrieved 2011-10-03.

    199. ^  The Riddle Homophobia Scale from Allies Committee website, Department of Student Life,Texas A&M University

    200. ^ Michael Lamb, Ph.D.: Affidavit – United States District Court for the District of Massachusetts (2009)

    201. ^ a b Gregory M. Herek, Ph.D.: Facts About Homosexuality and Child Molestation

    202. ^ American Psychological Association: Lesbian & Gay Parenting

    203. ^ “Crime in the United States 2004: Hate Crime”, FBI, retrieved 2007-05-04[dead link][dead link]

    204. ^  Smith, Dinitia (February 7, 2004). “Love That Dare Not Squeak Its Name”. New York Times. Retrieved 2007-09-10.

    205. ^ Gordon, Dr Dennis (10 April 2007). “‘Catalogue of Life’ reaches one million species”. National Institute of Water and Atmospheric Research. Archived from the original on 2007-07-13. Retrieved 2007-09-10.

    206. ^ Gay Lib for the Animals: A New Look At Homosexuality in Nature – 2/1/1999 – Publishers Weekly


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.